Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Lima Pejuang Wanita Aceh: Tak Gentar Melawan Belanda


Aceh merupakan salah satu daerah yang bisa dikatakan paling sulit untuk ditaklukkan oleh negara-negara kolonial. Bahkan, bagi sebuah negara penajajah seperti Belanda yang terkenal akan keberingasannya, tak mudah untuk menguasai wilayah Tanah Rencong.

Terbukti, sejak pertama kali Negara Kincir Angin -julukan Belanda- menginvansi daerah yang kini menjadi provinsi paling barat Indonesia tersebut pada 1873, perjuangan rakyat Aceh tak pernah kendur. Perang terus menerus terjadi di Bumi Serambi Makkah hingga Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia.

Perjuangan melawan kolonial Belanda, tidak hanya dilakukan oleh kaum pria semata. Namun, ada juga ‘inong-inong Aceh’ (wanita-wanita Aceh, -terj Bahasa Aceh) yang memimpin pasukan dengan mengangkat senjata dan bertempur langsung di medan perang.

Siapa saja inong-inong Aceh yang berani bertempur melawan invansi dan mengacaukan upaya Belanda untuk melakukan kolonial? Berikut ulasan singkat perjuangan dari inong-inong Aceh.


Pocut Meurah Intan (1833-1937)

Di telinga masyarakat awam, mungkin nama Pocut Meurah Intan tak segaung Keumalahayati, Cut Nyak Dhien, Cut Nyak Meutia, dan pejuang inong-inong Aceh lainnya. Namun harus diketahui, perjuangan pahlawan wanita kelahiran Biheue, wilayah Sagi XXII Mukim pada 1833 ini, tidak kalah merepotkan Pemerintah Belanda kala itu.

Pengaruhnya terhadap pergerakan perjuangan di medan perang, bisa dibuktikan bahwa tokoh yang dengan nama lain dikenal dengan Pocut di Biheue tersebut, juga menyulitkan pemerintahan kala itu. Terbukti, diakhir hayatnya, ia harus diasingkan berates-ratus kilometer dari tanah kelahirnnya sendiri.

Pejuang yang masih memiliki darah keturunan Kesultanan Aceh ini, dikenal sangat antiterhadap kolonial Belanda. Ia bahkan rela menceraikan suaminya, Tuanku Abdul Majid, yang kala itu menyerah kepada penjajah. Sehingga dalam menjalankan perjuangan, ia mengajak ketiga anaknya, seperti Tuanku Muhammad Batee, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin, beserta pasukan lainnya untuk melakukan perlawanan.

Begitu gigih dan gencarnya perlawanan yang dilakukan membuat Belanda melakukan penyerangan terhadap pasukan Pocut Meurah Intan dan ketiga anaknya tersebut. Alhasil, anaknya, Tuanku Muhammad Batee ditangkap pasukan Belanda pada Februari 1900 di kawasan Tangse, Pidie. Tak hanya sampai di situ, dua bulan kemudian Pocut Meurah Intan juga harus berpisah dengan Tuanku Muhammad Batee, usai sang anak diasingkan ke Tondano, Sulawesi Utara.

Kehilangan buah hati dari sisinya, tidak membuat wanita ini menyerah, bahkan ia semakin marah kepada Belanda. Hingga sampai tersiar kabar bahwa Pocut Meurah Intan akhirnya ditangkap di Sigli, Pidie pada 11 November 1902. Dalam proses penangkapan itu pun dikatan bahwa dirinya tidak mau menyerah begitu saja meski tubuhnya telah penuh dengan luka.

Melihat kondisi Pocut Meurah Intan yang terluka parah, Veltman, pimpinan pasukan Belanda pada waktu menawarkan pertolongan. Akan tetapi, rencong yang masih erat tergenggam ditangannya kala itu, membuat sejumlah pasukan marsose (pasukan khusus Belanda) terluka ketika akan mengamankannya.

Kegigihannya, membuat Belanda selaku musuh di medan perang mengakui semangat yang dimiliki Pocut Meurah Intan. Bahkan, pejuang wanita dari Aceh ini dijuluki sebagai ‘Heldhafting’ atau kepahlawanan yang terkenal untuk kegigihan dan keberaniannya.

Pocut Meurah Intan, beserta dua putranya, Tuanku Budiman dan Tuanku Nurdin, telah diamankan oleh Belanda. Selanjutnya, mereka pun diasingkan ke Blora, Jawa Tengah pada 6 Mei 1905 bersamaan dengan keluarga Sultan Aceh bernama Tuanku Ibrahim. Ia pun menghembuskan nafas terakhir di tempat pengasingannya tersebut, pada 20 September 1937.

Meski kegigihan serta keberanian Pocut Meurah Intan telah diakui oleh Belanda, namun hingga kini perjuangannya belum diakui sepenuhnya oleh Indonesia. Sehingga, pejuang wanita asal Aceh ini belum mendapatkan gelar sebagai pahlawan nasional.


Cut Nyak Dhien (1848-1908)

Berasal dari keluarga bangsawan, tidak membuat Cut Nyak Dhien, menjadi orang yang lemah dan manja. Pahlawan wanita asal Aceh kelahiran Lampadang, Kabupaten Aceh Besar, pada 1848 silam ini, dikenal tegas dan sangat disegani oleh Belanda maupun pejuang di Aceh pada masanya.

Istri dari Teuku Cek Ibrahim Lamnga (suami pertama Cut Nyak Dhien) tidak mengenal kompromi apabila berhadapan dengan Belanda. Amarah dan kebencian inong Aceh ini mulai timbul tidak lama setelah Negeri Kincir Angin itu melakukan invansi pertama kali pada 1873. Tidak pernah berkurang, bahkan semakin memuncak, ditambah ketika suaminya tewas ditangan Belanda, pada 29 Juni 1878.

Usai ditinggal gugur sang suami, Cut Nyak Dhien yang memimpin langsung perjuangan rakyat Aceh kala itu, melakukan pergerakan dan penyerangan secara bergerilya. Beberapa tahun berjuang bersama pengikutnya, pahlawan wanita yang kemudian dikenal sebagai ‘Ibu Perbu’ ini kemudian menikah kembali dengan pejuang Aceh lainnya, yakni Teuku Umar.

Sejak dua tekad dan impian pejuang Aceh ini disatukan pada 1880, perlawanan rakyat Aceh kepada Belanda semakin gencar. Tentunya perjuangan tersebut juga didukung oleh para pejuang-pejuang Aceh lainnya yang ada kala itu.

Kolaborasi dari taktik perjuangan keduanya, sempat membuat Belanda dirugikan sehingga banyak kehilangan senjata. Sebab, Teuku Umar pada saat itu membuat siasat untuk berpura-pura bekerja sama dengan Belanda. Setelah beberapa tahun kemudian, suami kedua Cut Nyak Dhien itu berpaling dan melakukan penyerangan terhadap negara penjajah tersebut.

Belanda yang merasa dikhianati coba melakukan penyerangan secara besar-besaran ke kawasan pantai barat Aceh (kini Kabupaten Aceh Barat). Dalam oeprasi itu, Teuku Umar tewas. Belanda menyergap suami Cut Nyak Dhien berserta pasukannya di wilayah Meulaboh pada tanggal 11 Februari 1899.

Kehilangan suami keduanya tidak mengendurkan perlawanan pahlawan wanita asal Aceh ini. Di tengah hutan belantara di kawasan pantai barat Aceh, ia masih menjadi momok menakutkan bagi Belanda.

Meskipun demikian, faktor usia tidak bisa dipungkiri. Cut Nyak Dhien yang tak lagi muda, mulai merasakan encok dan pengelihatannya pun tak setajam dulu (rabun). Sementara, jumlah pengikutnya mulai menipis, karena telah banyak yang gugur.

Melihat kondisi seperti itu, membuat Pang Laot, seorang pengawal Cut Nyak Dhien, merasa iba. Ia kemudian menjumpai Belanda dan melakukan kesepakatan. Ketika akan dievakuasi oleh pemerintah kolonial, Cut Nyak Dhien yang masih enggan menyerah terus melakukan perlawanan. Akan tetapi, kondisinya yang tak lagi prima membuat Belanda dengan mudah mengamankannya.

Sesuai kesepakatan dengan Pang Laot, Cut Nyak Dhien diperlakukan secara hormat. Untuk mengurangi pengaruhnya dalam perjuangan rakyat Aceh, ia pun kemudian diasingkan ke wilayah Sumedang, Jawa Barat, pada 11 Desember 1905. Tiga tahu setelah pengasingannya, Cut Nyak Dhien menghembuskan nafas terakhirnya, pada  6 November 1908 dan dimakamkan di Gungun Puyuh, Desa Sukajaya, Kecamatan Sumedang Selatan, Sumedang.

Tak hanya di Aceh, di pengasingannya, Cut Nyak Dhien pun sangat dihormati oleh warga sekitar. ‘Ibu Prabu atau Ibu Suci’, begitulah masyarakat sekitar mengenal Pahlawan Nasional Indonesia asal Aceh ini.

Puluhan tahun setelah meninggal, makam Cut Nyak Dhien baru ditemukan pada 1959. Tiga tahun kemudian, tepatnya 2 Mei 1962, Presiden Sokarno melalui SK Presiden RI Nomor 106 Tahun 1964, mengangkat Cut Nyak Dhien menjadi Pahlawan Nasional Indonesia.


Teungku Fakinah (1856-1933)

Teungku Fakinah, begitulah masyarakat Aceh mengenal pejuang wanita kelahiran tahun 1856, di Gampong Lambeunot, Mukim Lamkrak yang kini masuk wilayah Kabupaten Aceh Besar, Aceh, silam. Dirinya tak hanya berperan sebagai panglima dalam memimpin perjuangan melawan Belanda, namun juga sebagai ulama sekaligus membangun pendidikan Islam pada masa itu.

Berdasarkan sejumlah sumber sejarah menyebutkan, dalam memimpin perlawanan terhadap pemerintah kolonial, anak dari pasangan Datu Mahmud dan Cut Fathimah, sangat disegani dan ditakuti oleh musuhnya. Sementara, di luar medan tempur, ia dianggap sebagai sosok ulama besar dan memiliki pesantren yang dibangunnya sendiri.

Keberanian Teungku Fakinah didapatkan berkat pendidikan militer masa Keslutanan Aceh Darussalam yang pernah dienyamnya. Bahkan, dalam masa pendidikan itu, ia kemudian menemukan pujaan hatinya di sana dan menjadi suaminya, yakni Teungku Ahmad, seorang perwira muda sekaligus ulama. Sedangkan ilmu agama yang dimiliki pejuang wanita ini didapatkan dari ibunya, yang merupakan anak seorang ulama ternama masa itu di Aceh Besar.

Sebelum Belanda melancarkan invansi ke Aceh untuk pertama kali, pada 1873, Teungku Fakinah dan suaminya aktif mengajar membaca Alquran, ilmu-ilmu Islam dalam kitab-kitab berbahasa Melayu di Pusat Pendidikan Islam Dauah Lampucok milik ayahnya. Di samping itu, ia juga kerap memberikan ilmu menjahit, menenun, memasak, dan menyulam kepada wanita Aceh lainnya.

Perang antara Aceh dan Belanda untuk pertama kalinya meletus. Suami Teungku Fakinah yang ikut berperang gugur di medan pertempuran, di kawasan Pantai Cermin, Ulee Lheue. Kematian itu membuatnya ingin ikut terjun langsung berjuang. Memiliki kecakapan dalam bidang militer, Teungku Fakinah kemudian meminta izin kepada sultan dari Kesultanan Aceh pada saat itu untuk membentuk resimen (sukey) yang terdiri dari empat battalion (baling). Pasukan yang didominasi kaum perempuan itu kemudian diberi nama Sukey Fakinah dan ia sendiri menjadi panglimanya.

Selama perang berlangsung, ia bertempur di berbagai daerah di wilayah Aceh Rayeuk (kini Aceh Besar). Selanjutnya bergerilya kepedalaman Aceh bersama Sultan Muhammad Daud, Teungku Muhammad Saman Tiro, Tuanku Hasyim Bangta Muda, dan pejuang lainnya.

Sempat terjadi perselisihan antara Teungku Fakinah dengan pejuang Aceh lainnya kala itu, yakni Teuku Umar dan Cut Nyak Dhien. Taktik Teuku Umar yang menyerah kepada Belanda dikira Teungku Fakinah merupakan sebuah penghianatan, sehingga ia kemudian menyurati Cut Nyak Dhien agar suami keduanya itu memerangi pasukan Sukey Fakinah.

Cut Nyak Dhien yang mendapat surat dari Teungku Fakinah, kemudian mengabarkan suaminya yang kala itu telah bergabung dengan Belanda. Perseteruan itu akhirnya bisa teratasi setelah Teuku Umar kembali lagi ke dalam barisan perjuangan rakyat Aceh.

Setelah puluhan tahun berjuang di hutan belantara, Teungku Fakinah kemudian kembali ke kampung halamannya pada 1910 dan setahun kemudian membuka perguruan pendidikan agama. Pesantren ini merupakan pusat pendidikan Islam yang dipimpin oleh perempuan. Rata-rata santri di pesantrennya kala itu tidak hanya kalangan remaja, namun juga perempuan paruh baya dan janda-janda perang.

Teungku Fakinah sempat menikah kembali dengan Tengku Nyak Badai, namun suami keduanya itu pun tewas dalam penyerbuaan yang dilakukan Belanda pada 1896. Ia pun harus kembali berjuang sendiri kala itu.

Panglima barisan perempuan sekaligus ulama Aceh ini menghembuskan nafas terakhirnya pada 1938 di kampung halamannya.


Cut Nyak Meutia (1870-1910)

Hampir sama halnya dengan Cut Nyak Dhien, perjuangan Cut  Nyak Meutia melawan kolonial Belanda tak kalah gigih. Pejuang wanita kelahiran Keureutoe, Kecamatan Pirak Timu, yang kini wilayah Kabupaten Aceh Utara pada 1870 silam, bahkan harus gugur ketika sedang berjuang mempertahankan tanah airnya.

Meski perjuangan Cut Nyak Meutia bersama sang suami, Teuku Muhammad atau lebih dikenal sebagai Teuku Tjik Tunong dan pengikutnya terbilang baru dilakukan sekitar tahun 1901, namun perlawanan mereka telah mempersulit pemerintahan kolonial khususnya di wilayah pesisir timur Aceh. Gencarnya perjuangan pasangan suami istri ini membuat Belanda berang, hingga berujung penangkapan Teuku Muhammad pada 1905.

Suami Cut Nyak Meutia yang telah ditangkap, kemudian dibawa ke wilayah Lhokseumawe. Di sana, Teuku Muhammad dieksekusi oleh Belanda dengan hukuman mati.

Kematian itu ternyata tak membuat perjuangan anak dari Teuku Ben Daud Pirak dan Cut Jah surut. Usai memenuhi wasiat sang suami untuk menikahi Pang Nangroe, yang tak lain adalah krabat Teuku Muhammad, perjuangan kembali berkobar.

Perjuangan dengan bergerilya di tengah hutan belantara dan sesekali melakukan penyerangan ke pos-pos penjagaan milik pasukan Belanda, sabotase jalur logistik ,dan kereta api, menjadi taktik ampuh dari pasangan Cut Nyak Meutia dan Pang Nangroe. Serangan-serangan yang dilakukan membuat pemerintah kolonial harus kehilangan pasukannya atau minimal mengalami luka-luka.

Upaya untuk memperlemah kekuatan Belanda terus dilakukan. Sayang, di tengah perjuangan itu, Cut Nyak Meutia harus kembali kehilangan suaminya yang gugur terkena tembakan ketika berada di wilayah Paya Cicem, Lhokseukon, pada 1910.

Berjuang menyusuri rimba Tanah Rencong terus dilakukan Cut Nyak Meutia meski Pang Nangroe, suaminya, telah gugur. Bahkan, ia terus bergerilya hingga ke wilayah Gayo Lues dan Alas. Belanda yang masih berang dengan perlawanan inong Aceh tersebut, terus melakukan pengejaran.

Pertempuran antara pasukan Cut Nyak Meutia dengan Belanda pecah di tengah hutan belantara di kawasan Alue Kurieng pada 24 Oktober 1910 dan dalam peperangan itu, pahlawan wanita asal Pirak ini gugur usai peluru menembus tubuhnya. Jenazah Cut Meutia baru diambil oleh pasukannya sehari setelah ia tewas atau usai pasukan Belanda tidak ada lagi di lokasi.

Atas kegigihan perjuangan mempertahankan tanah air dari invansi pemerintahan kolonial Belanda, Presiden Soekarnya melalui melalui SK Presiden Nomor 107/1964 di tahun 1964 menobatkan Cut Nyak Meutia sebagai Pahlawan Nasional Indonesia.


Pocut Baren (1880-1928)

Pocut Baren, pahlawan wanita asal Aceh kelahiran Kemukiman Tungkop, wilayah Sungai Mas, yang kini masuk dalam Kabupaten Aceh Barat pada 1880 ini, memiliki hubungan erat dengan Cut Nyak Dhien. Maklum saja, dalam melawan kolonial Belanda, ia menjadi salah seorang pasukan yang satu barisan dengan pahlawan nasional wanita tersebut.

Ditangkapnya Cut Nyak Dhien oleh Belanda pada 1905, tidak membuat perlawanan rakyat Aceh redup, khususnya bagi para pengikutnya. Salah sataunya perlawanan yang dilakukan oleh anak Teuku Cut Anmat Tungkop.

Di masa perlawanan menghadapi kolonial Belanda, Pocut Baren tak hanya berjuang bersama Cut Nyak Dhien, namun sang suami juga ikut di medan perang. Perjuangan bersama pasangan suami istri ini terpaksa terpisah, tak lama setelah Cut Nyak Dhien ditangkap, suami Pocut Baren tewas dalam pertempuran dengan Belanda di wilayah Keujren Game, Aceh Barat.

Kehilangan dua sosok penting dalam hidup dan perjuangan yang dilakukannya, tidak membuat Pocut Baren kehilangan semangat. Ia yang mulai diemban sebagai pemimpin pasukan, melakukan pergerakan dan perlawanan. Kawasan Gunong Mancang dipilih sebagai pusat pertahanan dan didirikan benteng di wilayah tersebut.

Setidaknya, kekuatan militer pemerintah kolonial di wilayah pantai barat Aceh hingga 1910 porak-poranda dibuatnya. Bahkan, kabarnya pasukan petinggi militer Belanda, seperti Letnan HJ Kniper, Letnan Brewer, dan Letnan CA Reumpol, serta 16 petinggi lainnya sempat berupaka menangkap istri dari Ampon Rasyid tersebut. Akan tetapi tidak berhasil.

HC Zentgraaff dalam catatannya menggambarkan bahwa sosok Pocut Baren sebagai pejuang wanita yang selalu dikawal lebih tiga puluhan pejuang pria. Ia berjuang dengan menggunakan pedang tajam yang terkenal di pantai barat sejenis kelewang bengkok.

Pertahanan yang dibuat Pocut Baren di Gunong Mancang akhirnya luluh lantak usai diserang secara besar-besaran oleh Belanda pada 1910. Pasukan marsose yang dipimpin Letnan Hoogers membuat pejuang Aceh di tempat tersebut harus berpindah dan membangun pertahanan baru.

Setelah memastikan kekuatan pasukan yang dipimpinnya kembali tangguh, Pocut Baren melakukan serangan ke markas Belanda. Meski pertempuran itu juga membuat pihak kolonial dirugikan, namun Pocut Baren berhasil dilumpuhkan oleh Belanda. Ia yang telah terluka parah kemudian ditawan dan perlawannya pun berakhir.

Usai ditawan Belanda, Pocut Baren beberapa tahun kemudian meninggal dunia pada 1933 dan dimakamkan di Kemukiman Tungkop yang merupakan kampung halamannya.

Meski belum mendapatkan gelar sebagai Pahlawan Nasional Indonesia dari Pemerintah Republik Indonesia, namun nama Pocut Baren telah disematkan oleh Pemerintah Aceh pada salah satu jalan di kawasan Kecamatan Kuta Alam, Kota Banda Aceh, Aceh.[]


Sumber:
Editor:

Jejak Gubernur Pertama Aceh, Teuku Nyak Arief

Teuku Nyak Arief (Foto: minews.id)

Bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan sejarahnya dan menghormati jasa para pahlawannya. Para pahlawan itu sendiri sesungguhnya merupakan tokoh-tokoh sejarah yang telah mengorbankan jiwa-raga untuk kebesaran dan kejayaan bangsa dan negaranya. Itulah sebabnya mengapa mereka pantas diteladani sifat dan perilaku yang telah ditorehkan dalam sejarah, serta mengenang jejak-jejak pengabdiannya bagi negera. Maka tak heran, kebanyakan orang mengatakan sejarah adalah cerminan untuk masa depan bagi semua orang, terutama bagi generasi muda sebagai pewaris perjuangan dan pengisi hasil perjuangan.

Terlepas dari pro dan kontra, Teuku Nyak Arif manusia yang seluruh hidupnya diserahkan mutlak bagi Aceh dan kebesaran bangsa yang peduli terhadap kesejahteraan rakyat Aceh. Dia tidak pernah berfikir kapan namanya ditulis di lempengan emas, atau di atas prasasti. Dia tidak pernah berfikir namanya akan jadi kontroversial di hari kemudian. Satu yang ada di jiwanya: Bagaimana seluruh pelosok Aceh, dan rakyat menikmati kesejahteraan yang berkeadilan, adil dan makmur serta menjaga warisan nenek-moyangnya.

Terlalu sedikit tempat dan waktu untuk menuliskan kegagahan dan kebijaksanaan Teuku Nyak Arif dalam memimpin Aceh selama masa hidupnya. Kalau kita mau jujur, kita seharusnya bangga dan berbesar hati memiliki kakek moyang seperti Teuku Nyak Arif ini. Sebagaimana yang pernah dituliskan oleh Muhammad Said dalam salah satu karyanya; “Bagaimanapun jasa Teuku Nyak Arif dalam perjuangan kemerdekaan tidak dapat diremehkan. Bahwa ia diungsikan ke Takengon dan meninggal di sana tidak boleh dilihat dari prasangka bahwa jasanya tidak ada lagi. Kita banyak membaca riwayat-riwayat revolusi, bahkan revolusi Perancis sendiri, betapa orang berada paling depan menggalakkan revolusi telah dinilai sebaliknya. Memang sejarah bisa membiarkan tertutup dengan riwayat-riwayat yang benar faktanya. Tetapi kalau itu masih lapang waktu kenapa harus membiarkan seseorang diselimuti kabut-kabut yang melindungi kebenaran.” Satu diantaranya Nyak Arif.

Cerita keindahan dan kejayaan masa lalu, sebagaimana pun menarik dan menggugah emosi, tetaplah cerita yang tak bisa dijadikan apa-apa. Teuku Nyak Arif yang sampai kini masih terdapat kontroversi dan belum terkuak sejarah lainnya, bukanlah Teuku Nyak Arif yang membuat semua orang terpukau di era hidupnya. Kendati demikian, mungkin pada masa yang akan datang sejarah tentang Teuku Nyak Arif bisa lebih terbuka.

Atau, suatu saat nanti, (mungkin) sejarah Nyak Arif akan terbuka secara perlahan-lahan layaknya cahaya bulan yang membuat bumi menjadi indah dengan keberadaannya kadang nampak dan terkadang tertutup oleh awan. Hingga saat itu tiba, yang bisa dilakukan memang hanya berpegang pada ingatan tentang jejak seorang Teuku Nyak Arif. Kita tahu bahwa, bukankah sejarah itu tidak akan pernah final.

Nyak Arif dan Ingatan yang Terpahat

Teuku Nyak Arif, namanya telah menunjukkan bahwa dia merupakan seorang bangsawan Aceh. Ia dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 di Ulee Lheue, Banda Aceh. Teuku Nyak Arif adalah anak dari pasangan suami istri yang kebetulan sama-sama berasal dari Aceh. Ayahnya bernama Teuku Nyak Banta, dengan nama lengkapnya Teuku Sri Imeum Nyak Banta, seorang Panglima (kepala daerah) Sagi XXVI Mukim. Ibunya bernama Cut Nyak Rayeuh, bangsawan di daerah Ulee Lheue pula, tempat dimana Nyak Arif dilahirkan. Teuku Nyak Arif adalah anak ketiga dari lima orang saudara sekandung, 2 laki-laki dan 3 perempuan. Saudara tirinya yang dilahirkan dari 2 orang isteri ayahnya yang lain, 3 perempuan dan 2 laki-laki.

Teuku Nyak Arif setelah menyelesaian Sekolah Dasar di Kuta Raja, pada tahun 1908 meneruskan ke Sekolah Guru/Raja (Kweekschool) di Bukit Tinggi jurusan Pamong Praja (pemerintahan). Nama Teuku Nyak Arif pada saat itu sangat terkenal di kalangan murid-murid sekolah Kweekschool tersebut. Nama baik Nyak Arif tersemat dan terpahat sebagai teladan yang baik dalam hati segenap murid-murid yang berasal dari berbagai pulau Sumatera. Sifat dan sikapnya yang cekatan serta tutur kata yang indah dan ringkas namun tegas, telah menjadi perhatian di sekolah, bahkan sudah menjadi ciri khas seorang Nyak Arif.

Di sekolah Teuku Nyak Arif tersebut, peserta didik yang berasal dari Aceh tidak hanya Nyak Arif seorang. Selain Nyak Arif, beberapa murid dari Aceh yang menuntut ilmu di sekolah Kweekschool seperti, Mahmud, Said Abdul Aziz, Raja Ibrahim, Rahman, Alibasya, Rayeuk, Idris. Semua orang ini bergelar Teuku seperti halnya Teuku Nyak Arif. Setelah menyelesaikan Sekolah Raja di Bukit Tinggi, Teuku Nyak Arif melanjutkan pendidikannya ke sekolah lain. Pada tahun 1912, Teuku Nyak Arif melanjutkan sekolah ke OSVIA (Opleiding School Voor Inlandsche Ambtenaren) di Banten.

Di sekolah yang baru ini, Nyak Arif mencoba mematangkan diriya dengan mengisi berbagai pengetahuan dan pengalaman yang ia dapat. Tak heran, Nyak Arif pun terlihat semakin matang, terutama di bidang politik. Selama menuntut ilmu di Banten, Nyak Arif memperdalam ilmu dibidang pramong praja sebagai lanjutan dari sekolah di Bukit Tinggi. Disinilah kelihatan kalau Teuku Nyak Arif adalah seorang yang cerdas, bahwa ia benar-benar mendalami disiplin ilmu yang ia tekuni sejak semula dari Bukittinggi sampai ke Banten.Tampilnya Teuku Nyak Arif

Sewaktu masih sekolah diluar Aceh, Teuku Nyak Arif menunjukkan dua rupa wajahnya. Di satu sisi, Nyak Arif memiliki sifat yang tidak mau tunduk kepada Belanda. Di sisi lain, Nyak Arif memperlihatkan sifat yang begita ramah kepada teman-teman sekolahnya. Pada tahun 1915, Nyak Arif selesai sekolah di Banten dan pulang ke Aceh setelah sekian lama berpertualangan dan menuntut ilmu di negeri orang. Pada tahun 1918-1920, Teuku Nyak Arif bekerja sebagai pegawai urusan distribusi makanan beras rakyat. Selain itu, ia juga mengikuti kegiatan politik. Tahun 1918 masuk organisasi Nationale Indische Partij (NIP) yang mulanya bernama Insulinde yang diketuai oleh Douwes Dekker, dkk di Jakarta.

Di Aceh Teuku Nyak Arif tercatat sebagai orang yang terkemuka, mempunyai pengaruh besar di kalangan masyarakat. Kecakapannya sebagai orang keluaran OSVIA tampak menonjol, terutama didukung oleh keberaniannya menghadapi pembesar-pembesar Belanda. Oleh karena itu pada tanggal 16 Mei 1927 atas usul residen Aceh ia diangkat menjadi anggota Volksraad (Dewan Rakyat). Di samping itu pekerjaannya sebagai Panglima Sagi XXVII tetap ia jalankan dengan baik. Sebagai anggota Volksraad ia lebih banyak tinggal di Aceh daripada di Jakarta.

Di sidang-sidang Volksraad ia selalu menunjukkan kecakapan dan keberaniannya terutama dalam mengeritik kebijaksanaan pemerintah Hindia Belanda. Lebih khusus lagi ketangkasannya menghadapi orang-orang Belanda anggota-anggota Volksraad yang reaksioner. Seringkali nama Teuku Nyak Arif muncul dalam laporan-laporan perdebatan di Volksraad di dalam surat kabar. Ia terpuji sebagai, “anak Aceh yang berani dan lurus” seperti ditulis dalam laporan harian Bintang Timur. Ia mampu menandingi orang-orang Belanda yang terkenal piawai berolah kata di Volksraad seperti Mr. Drs. Fruin, Lighart dan Zentgraaf, wartawan ulung yang amat terkenal pada zamannya.

Dalam tahun 1931 berakhirlah keanggotaan Teuku Nyak Arif dalam Volksraad. Ia kembali ke pekerjaannya sekaligus giat dalam perjuangan rakyat di Aceh. Berbagai langkah dan tindakannya senantiasa menuju kepentingan dan keringanan rakyat, bahkan pembelaan terhadap nasib rakyat kecil. Sekalipun kejadian tidak di wilayah kekuasaannya, namun Nyak Arif tidak segan-segan bertindak. Dialah satu-satunya Ulebalang (Panglima) yang amat disegani baik oleh rekan-rekannya maupun oleh Belanda.

Pada tahun 1939 di Aceh berdiri Persatuan Ulama Seluruh Aceh (PUSA) yang diketuai oleh Tengku Muhammad Daud Beureueh. PUSA mengadakan hubungan dengan Jepang di Malaya sejak 1940-1942. Kemudian Jepang mempergunakan PUSA untuk melemahkan Belanda di Aceh dengan segala jalan. Teuku Nyak Arif prihatin melihat langkah-langkah PUSA dan menganggapnya sebagai suatu kemunduran bagi pergerakan nasional.

Keadaan makin lama makin memuncak. Pada 8 Maret 1942 residen Aceh mengadakan pertemuan politik dengan Tuanku Mahmud dan Teuku Nyak Arif. Permintaan Nyak Arif agar pemerintah diserahkan kepadanya ditolak oleh residen. Pertemuan lanjutan pada 10-11 Maret 1942 diundang 9 pemimpin-pemimpin Aceh, namun Nyak Arif tidak hadir. Ternyata 8 orang pemimpin yang hadir semuanya ditangkap. Rumah Nyak Arif di Lamnyong diserbu, namun Nyak Arif tak diketemukan dan keluarganya sempat meninggalkan rumahnya sebelum diserbu Belanda. Kolonel Gozenson panglima militer di Aceh berusaha sungguh-sungguh untuk menangkap Nyak Arif, tapi tidak berhasil. Pemimpin-pemimpin lainnya, Cut Hasan Mauraxa, Hanafiah dan Raja Abdullah berhasil ditangkap.

Pada 12 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Sabang, kemudian Mayor Jenderal Overakker dan Kolonel Gazenson menyerah kepada Jepang pada 28 Maret 1942. Sementara itu, rakyat telah membentuk “Komite Pemerintahan daerah Aceh” dengan Teuku Nyak Arif sebagai ketuanya. Jepang mengatur pemerintahan di Indonesia dengan pembagian yang berbeda dengan Belanda. Salah satunya Sumatera dibagi menjadi 9 karesidenan, semuanya dikepalai oleh residen Jepang (Cookang). Di Aceh Jepang menggunakan kaum Uleebalang dalam pemerintahan. Hal ini menimbulkan kekecewaan kepada PUSA yang merasa berjasa kepada Jepang, tetapi hanya dipakai untuk bidang keagamaan.

Teuku Nyak Arif menempuh jalan kerjasama dengan Jepang. Ia diangkat menjadi penasehat pemerintahan militer Jepang. Sebenarnya Nyak Arif tidak menaruh kepercayaannya kepada Jepang. Ucapannya yang terkenal ialah: “Kita usir anjing, datang babi (talet but, ta peutamong ase).” Belanda pergi Jepang datang, demikianlah maksud ucapan itu. Dua-duanya

 sama-sama busuknya. Nyak Arif memang disegani oleh Jepang. Meskipun ia keras dan banyak bentrok dengan pejabat-pejabat Jepang sipil dan militer, namun pemerintah Jepang mau tidak mau harus memperhitungkan dia sebagai pemimpin rakyat Aceh yang besar pengaruhnya. Pada tahun 1944 Nyak Arif dipilih menjadi wakil ketua “Sumatera Chuo Sangi In” (Dewan Perwakilan Rakyat seluruh Sumatera) yang diketuai oleh Moh. Syafei. Ia berpendirian, kerjasama dengan Jepang harus dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat.

Kekalahan Jepang dalam Perang Dunia II disampaikan oleh Chokang Aceh S. Ino kepada pemimpin-pemimpin Aceh, Teuku Nyak Arif, Panglima Polim dan Tengku Muhammad Daud Beureueh, katanya: “Jepang telah berdamai dengan Sekutu.” Proklamasi Kemerdekaan Indonesia terdengar di Aceh yang disampaikan oleh 2 orang pemuda kepada Teuku Nyak Arif, kemudian didapat berita-berita radiogram dari Adinegoro di Bukittinggi. Pemimpin-pemimpin rakyat mengadakan pertemuan dan membentuk “Komite Nasional Indonesia” (KNI) pada tanggal 28 Agustus 1945. Teuku Nyak Arif dipilih menjadi ketuanya. Pada tanggal 3 Oktober 1945 Teuku Nyak Arif diangkat oleh pemerintah RI menjadi residen (gubernur) Aceh. Selanjutnya Teuku Nyak Arif diliputi oleh berbagai kegiatan, baik soal-soal sipil maupun soal-soal keamanan/ketentaraan.

Dalam keadaan peralihan yang serba berat, maka residen Nyak Arif lebih banyak menyerupai pimpinan ketentaraan. Oleh karenanya tugas sipilnya banyak diserahkan kepada wakil residen. Teuku Nyak Arif banyak mengadakan perjalanan keliling mengatur ketentaraan dan khususnya keamanan. Karena jasanya itu ia pada tanggal 17 Januari 1946 ia diangkat menjadi Jenderal Mayor Tituler. Revolusi masih berjalan terus. Setiap waktu dapat terjadi perobahan yang di luar perhitungan. Di Aceh bergolaklah kembali persaingan antara kaum Ulebalang dan kaum Ulama. Laskar yang terbesar di Aceh adalah Mujahiddin dan Pesindo. Mujahiddin yang di bawah pengaruh kaum agama mempunyai ambisi akan menggantikan residen Nyak Arif. Maksud itu mendapat dukungan dari TPR (Tentara Perlawanan Rakyat). Konon, ada beberapa pihak yang mendukung untuk melengserkan residen Teuku Nyak Arif.

Suatu Hari, 4 Mei 1946...

Datanglah ke Banda Aceh, atau tepatnya Lamnyong suatu hari nanti. Disana kenangan-kenangan akan Teuku Nyak Arif masih dapat disaksikan secara jelas. Rumah Teuku Nyak Arif masih berdiri kokoh untuk dijadikan bukti bahwa Teuku Nyak Arif ini memang benar pernah terlibat dalam sejarah Aceh. Bagi Anda yang beruntung yang sudah pernah mengunjungi makam Teuku Nyak Arif, ada salah satu hal yang menarik di halaman makam tersebut. Tepat dibagian depan pintu masuk makam tersebut, kita akan disambut oleh dua buah monumen yang sangat bersejarah, dengan tulisan yang di permanen menunjukkan waktu “4 Mei 1946” di salah satu monumen tersebut. Waktu itu menunjukkan adalah suatu hari meninggalnya Mayjen Teuku Nyak Arif, seorang pahlawan nasional berasal dari Aceh.

Makam Teuku Nyak Arief (Foto: detik.com)

Mengutip dari buku-buku sejarah yang ada, waktu itu adalah hari ketika tiba-tiba waktu berhenti untuk seorang Teuku Nyak Arif. Meninggalnya Nyak Arif, dapat digambarkan sebagai “hari kelam bagi Pemerintah (atau dulu) disebut Residen Aceh”. Hari yang kelam tersebut datang dalam satu tahun (1946) yang dimulai begitu cepat untuk Aceh, terutama untuk keluarga yang ditinggalkan Nyak Arif, mereka menjulukinya sebagai Hari Kelabu. Betapa tidak, “Hari Yang Kelam” tersebut datang ketika suasana di Aceh saat itu sedang tidak nyaman; Perang Combok meletus. Meninggalnya Teuku Nyak Arif tidak dapat dipisahkan dari peristiwa perang saudara Aceh tersebut. Dalam tulisan ini, Perang Cumbok tidak akan dibahas.

Teuku Nyak Arif yang saat itu merupakan Residen Aceh mempunyai pengaruh yang besar dikalangan TKR (Tentara Keamanan Rakyat) Aceh yang dipimpin oleh Syamaun Gaharu. Saat itu, para pemimpin di Aceh sedang mengalami perebutan kekuasaan yang ada saat itu, terutama di antara kalangan ulama dan uleebalang. Nyak Arif yang merupakan dari kalangan uleebaalang, mendapatkan isu-isu yang propagandakan oleh berbagai pihak agar Teuku Nyak Arif dinonaktifkan dan diasingkan ke Takengon. Desakan ini kemudian menjadi kenyataan; pangkat Mayor Jenderal Teuku Nyak Arif diambil alih oleh Husin al Mujahid dan pangkat Syamaun Gaharu diambil alih oleh Husin Yusuf. (mungkinkah ini sebagai bentuk kudeta?).

Teuku Nyak Arif lebih bersedia menyerahkan segala jabatan yang diembannya, ketimbang harus berperang sesama bangsa sendiri. Kali ini Nyak Arif memperlihatkan bahwa ia adalah seorang yang tidak haus akan kekuasaan dan lebih mementingkan persatuan rakyat. Buktinya, Nyak Arif bersedia memberikan segala jabatannya dan menerima penahanannya dengan lapang dada. Hal ini tentu saja tidak terlepas dari jiwa nasionalis yang telah lama ditanam oleh Nyak Arif, bahwa sejak dari dulu ia cukup gencar melawan segala bentuk penjajahan bangsa asing diatas negerinya, dan ia kerapkali terlibat dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia serta meneruskan cita-cita revolusi.

Setelah menyerahkan pangkatnya, maka dilakukanlah penangkapan terhadap Teuku Nyak Arif. Karena mengetahui Nyak Arif masih memiliki pengaruh yang besar, golongan yang berseberangan dengan Nyak Arif melakukan penangkapan Teuku Nyak Arif secara baik-baik dan dengan penghormatan. Kepada keluarganya dikatakan bahwa Teuku Nyak Arif dibawa untuk beristirahat, kebetulan memang saat itu Nyak Arif sedang sakit. Akhirnya Teuku Nyak Arif dibawa ke Takengon dengan mobil dan mendapat pengawalan ketat. Ketika Nyak Arif dibawa ke Takengon, pada saat itu keluarga tidak dibolehkan ikut bersama dengan Nyak Arif. Barulah sekitar sebulan keluarga di izinkan mengunjungi kediaman Teuku Nyak Arif.

Selama Teuku Nyak Arif ditawan di Takengon, banyak tokoh-tokoh dan rakyat yang berdatangan menjenguk Nyak Arif. Bahkan Tengku Muhammad Daud Beureueh yang merupakan teman akrab Teuku Nyak Arif semenjak masa Belanda, meskipun terdapat pandangan politik yang berbeda, ikut juga menjenguk dan menanyakan kondisi kekinian tentang Teuku Nyak Arif. Pun begitu juga dengan Nyak Arif menanyakan balik kepada Daud Beureueh tentang kondisi Aceh pasca ia ditahan dan diasingkan.

Sebelum meninggal dunia, Teuku Nyak Arif banyak menitipkan pesan kepada istri dan keluarganya. Pesan dan wasiat Nyak Arif pun didengar betul oleh keluarganya dan berjanji untuk segera menepatinya. “Jangan menaruh dendam, karena kepentingan rakyat harus diletakkan di atas segala-galanya”. Demikianlah pesan terakhir Mayor Jenderal Teuku Nyak Arif kepada keluarga sebelum ajal menjemputnya. Akhirnya waktu itu tiba. Dengan ditemani istri, adik dan anak-anaknya, Teuku Nyak Arif menghembuskan nafas terakhirnya tepat pada tanggal 4 Mei 1946 di Takengon, Aceh Tengah.

Sejak saat itu, tidak ada hal lain selain kesedihan-lah yang tejadi pada hari itu juga. Simpati, empati, rasa hormat, belasungkawa, kekacauan, kehancuran dan pengkhianatan semuanya bercampur aduk menjadi satu. Hari ini (4 Mei 2015), 69 tahun yang lalu setelah kejadian tersebut, haruskah kemudian laki-laki, perempuan, anak-anak, orang tua, dan seluruh manusia di negeri ini mendapatkan warisan sejarah berharga; setiap detail terkenang dari peristiwa yang melibatkan Teuku Nyak Arif. (Mungkin) tragedi dan simpati telah membantu menarik hati mereka semua; pasukan Ulee Balang, pasukan Ulama Aceh (PUSA), atau siapapun yang berkaitan dengan segala peristiwa di tahun-tahun yang melibatkan Teuku Nyak Arif. Semua hal-hal yang hancur lebur pada masa tersebut, akhirnya terlahir kembali.

Adalah monumen yang bertuliskan waktu permanen tepat berada dibagian depan gerbang masuk salah satu makam pahlawan nasional di desa Lamreung, Ulee Kareng. 4 Mei 1946, waktu memang berhenti seketika untuk salah satu putra Aceh yang bernama Teuku Nyak Arif. Tapi sebelum waktu itu tiba, cerita sesungguhnya baru saja dimulai tatkala seorang bocah yang dilahirkan pada tanggal 17 Juli 1899 telah ikut berbicara dalam sejarah Aceh sampai pada 4 Mei 1946. Sebuah cerita yang selamanya akan menggetarkan setiap jiwa yang berhubungan dengan Teuku Nyak Arif; entah itu pada masa Belanda, pergerakan nasional, pendudukan Jepang, kemerdekaan Indonesia, bagi Pemerintah Indonesia maupun Pemerintah Aceh, atau ... pada masa Perang Cumbok.

Hari-Hari Setelah Meninggalnya Nyak Arif

Semenjak meninggalnya Teuku Nyak Arif, tampaknya Aceh telah kehilangan sosok yang sangat penting yang selama ini telah berjuang bersama-sama dengan rakyat Aceh. Di lain sisi, keluarga Teuku Nyak Arif harus buru-buru mempersiapkan proses pemakaman jenazah. Tak heran, saat itu sempat pula hadir beberapa spekulasi; apakah Teuku Nyak Arif dikebumikan di Takengon saja atau dibawa pulang ke Kutaraja (kini Banda Aceh).

Pembicaraan-pembicaraan penuh keputusan banyak terjadi; mulai dari keamanan di sekitaran Teuku Nyak Arif menghembuskan nafas terkahir, keamanan di Takengon, bahkan di koridor Kutaraja. Namun, dapat dipastikan bahwa proses perjalanan jenazah Teuku Nyak Arif dari Takengon ke Kutaraja berlangsung aman. Seluruh keluarga yang ikut berangkat dengan jenazah Teuku Nyak Arif, tak mampu menahan kesedihan bahkan isak tangis pun mewarnai proses dalam perjalanan jenazah.

Setelah Teuku Nyak Arif meninggal dunia, banyak tokoh dan pemimpin serta rakyat yang melayat. Jenazah Teuku Nyak Arif yang berada di Takengon, dibawa ke Bireuen kemudian dilanjutkan ke Sigli dan dari Sigli dibawa dengan kerta api menuju Kutaraja. Jenazah Teuku Nyak Arif dimakamkan di desa Lamreung, yang tidak jauh dari Lamnyong. Makam Teuku Nyak Arif berdampingan dengan makam ayahnya sendiri, Teuku Nyak Banta. Mengingat besarnya jasa-jasa Teuku Nyak Arif baik untuk Aceh maupun Indonesia, Pemerintah RI menganugerahi Teuku Nyak Arif gelar Pahlawan Nasional berdasarkan SK Presiden No. 071 /TK/Tahun 1974 tanggal 9 Nopember 1974.

“Selamat jalan Mayor Jenderal Teuku Nyak Arif, ingatan kami tentang sejarah-mu takkan pernah hilang ditelan oleh masa. Doa kami turut selalu menyertai nama-mu”.[]


Sumber: 
Editor:

Catatan Tiongkok Tentang Raja Arab Di Nusantara

Catatan Tiongkok Tentang Raja Arab Di Nusantara

Diorama pedagang Arab di Malaka di Museum Istana Kesultanan Melaka. (Doc. Istimewa)
Catatan Tiongkok mengungkap adanya permukiman orang-orang Arab awal di Nusantara. Di manakah letaknya?

Seorang penguasa Arab, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang, meletakannya di perbatasan negara Ratu Sima. Sang Ratu di Jawa itu membuat Raja Da-zi penasaran karena ketegasannya menghukum mereka yang tak jujur. Tiga tahun berlalu, tas itu tak tersentuh. Orang-orang hanya melihatnya. Tak ada yang berani mengambilnya.

Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima marah besar sampai ingin membunuhnya. Namun, para menteri keburu mencegahhnya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu.

Para menteri kembali menghalanginya. Akhirnya, Ratu Sima hanya memotong ibu jari kaki sang pangeran. Raja Da-zi pun takut dan tak berani menyerang negara sang ratu.

Demikian kesaksian utusan Tiongkok yang diabadikan dalam Sejarah Baru Dinasti Tang. Tercatat pada 674 M, Ratu Sima ditahbiskan sebagai pemimpin perempuan di Ho-Ling. Menariknya dalam catatan itu Raja Da-zi dikaitkan dengan orang Arab.

Siapakah Da-zi atau Ta-shih?
Da-zi atau Ta-shih tak hanya disebut dalam sumber Tiongkok abad ke-7 M. Arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim di Indonesia menjelaskan adanya sumber Jepang dari tahun 748 M. Sumber itu antara lain menceritakan banyak kapal Po-sse dan Ta-shih Kuo yang berlabuh di Khanfu (Kanton).

Demikian pula Chau-ju-kua, seorang pemeriksa pabean di Quanzhou, dalam karyanya Chu-fan-chi (1225 M) yang mengutip karya Chau-ku-fei (1178 M). Karya ini masih menceritakan adanya koloni orang-orang Ta-shih.

Nurni Wahyu Wuryandari, peneliti dari Pusat Studi Cina Universitas Indonesia menjelaskan, penyebutan Da-zi atau Ta-shih muncul juga dalam catatan Sejarah Dinasti Sung. Ta-shih disebutkan ketika catatan itu menjelaskan rute pelayaran dari Tiongkok ke Jawa.

“Mereka ke Jawa mulai dari Guangzou, lalu ke Tumasik, ada perdebatan Tumasik itu Singapura. Dalam konteks ini Singapura cocok. Tapi Ta-shih juga bisa berarti kerajaan Arab sebetulnya. Lalu masuk Sriwijaya, baru ke Jawa. Pulangnya lewat Sriwijaya lagi, Kuala Terengganu dan ke atas kembali ke Tiongkok,” kata Nurni dalam acara Borobudur Writers Cultural and Festival ke-7, di Hotel Manohara, Magelang.

Rita Rose di Meglio juga menyamakan Ta-shih pada abad ke-7 M dengan orang Arab. Dalam "Arab Trade With Indonesia And The Malay Peninsula From the 8th to 16th Century" dalam Islam: The Trade of Asia, Rita menjelaskan bahwa Ta-shih bukan untuk disamakan dengan orang-orang muslim lainnya dari India.

Penafsiran lebih jelas dilakukan oleh W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Dia menulis, Ta-shih atau olehnya disebut Da-zi, merupakan nama yang umum digunakan untuk bangsa Arab dalam catatan-catatan sejarah Tiongkok.

Lebih jauh Groeneveldt menjelaskan Da-zi berada di pantai barat Sumatra. Lokasi ini tak pernah dijelaskan dalam literatur geografi Tiongkok. Sepertinya tak ada perdagangan atau kontak dengan wilayah itu. Maka, ketika wilayah ini dijelaskan, seringkali disamakan dengan Persia atau mayoritas dengan Arabia.

“Sepertinya, permukiman Arab telah ada di pantai barat Sumatra sejak lama. Akibatnya, sejumlah penulis Tionghoa menyamakan negara ini dengan Arabia,” ujarnya.

Seorang penulis, Dong Xi Yang Kao, bahkan menyatakan cerita Nabi Muhammad terjadi di pantai ini. Groeneveldt pun menilai, raja orang Arab yang tertera dalam catatan Tiongkok itu mungkin hanyalah pemimpin permukiman Arab di pulau itu saja.

Letak perkampungan orang Arab
Menurut Uka, letak perkampungan awal orang-orang Arab itu sulit dipastikan mengingat penafsiran dan penempatan Ta-shih dari masa ke masa berbeda-beda.

Salah satunya Haiguo Tuzhi, karya sarjana Tiongkok, Wei Yuan yang terbit pada 1844. Dia sudah mencantumkan peta Eropa yang benar berdasarkan sumber Eropa. Namun, dia masih mencatumkan peta historis Asia Tenggara dalam model yang lama. Petanya membagi Jawa menjadi dua buah pulau terpisah. Dia meletakkan orang Da-zi sejauh lima hari pelayaran dari pantai Jawa. Mereka tinggal di pantai barat Sumatra dan tak terlalu jauh ke utara.

Kemudian, jika Groeneveldt menaksir Ta-shih adalah orang-orang Arab yang letak perkampungannya di pesisir barat Sumatra, maka sejarawan Paul Wheatley menebak letaknya ada di Kuala Brang, sekitar 25 mil dari Sungai Trengganu.

Sedangkan peneliti Malaysia, Syed Muhammad Naquib al-Attas, memperkirakan tempatnya ialah Palembang, Sumatra Selatan.

“Dari perbedaan itu, dapat diambil kesamaan kalau perkampungan orang Ta-Shih dan orang Arab sesungguhnya berada di Asia Tenggara yang tidak dapat dipisahkan dari peran Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional,” lanjut Uka.

Keberadaan orang Arab ini kemudian memunculkan asumsi lain. Uka mengaitkannya dengan kemungkinan kedatangan Islam di Nusantara. Dia mengatakan berdasarkan catatan itu bisa jadi Islam dibawa langsung oleh orang Arab dari negeri asalnya.

“Maka, timbulah perkiraan kalau pada abad ke-7 M atau abad pertama hijriah orang-orang muslim sudah datang dan mempunyai perkampungan di Indonesia,” kata Uka.

Dalam Arkeologi Nusantara, Uka juga menyebut bahwa pedagang Arab (Ta-shih) juga Persia (Po-sse) yang datang ke Sumatra, khususnya Jambi dibuktikan oleh catatan Tionghoa abad ke-9 M, yaitu Pei Hu Lu (875 M). Disebutkan di sana kedatangan Ta-shih dan Po-sse ke Chan Pei untuk membeli buah pinang.

Namun, pada waktu itu Islam belum berkembang secara luas di kawasan ini. Menurut cerita lokal Jambi, Islam baru berkembang secara luas ketika berada di bawah kekuasaan Orang Kayo Hitam, salah satu sultan yang terkenal dari Jambi yang berkuasa sejak permulaan abad ke-16.

Menurut Uka, terlepas ketidaksepahaman penafsiran Ta-shih dan letaknya, yang jelas pada abad ke-7 dan 8 M tidak mustahil orang muslim sudah banyak yang berhubungan dengan orang Nusantara dan negeri-negeri Asia Tenggara lainnya serta Asia Timur. Mereka bisa saja dari Arab, Persia, maupun India.[]


Sumber: 
Historia.id
Editor:

Virginia Hall, Mata-mata Perempuan Paling Berbahaya di Perang Dunia II

Virginia Hall. (Dokumen: CIA Gov)
Tulisan mengenai Virginia Hall, Mata-mata Perempuan Paling Berbahaya di Perang Dunia II sebelumnya pernah dipublikasikan di nationalgeographic.grid.id, pada Kamis, 1 November 2018.

****

Selama Perang Dunia II, pemerintah Nazi terus memburu para pemberontak dan mata-mata sekutu. Selain itu, ada satu operasi khusus yang dilakukan Reich Ketiga untuk menangkap mata-mata yang membocorkan misi Nazi. Nama mata-mata tersebut adalah Virginia Hall, tapi Nazi lebih sering menyebutnya dengan “wanita pincang”.

“Saya akan memberikan apa pun asal bisa menangkap wanita Kanada pincang itu,” ucap Klaus Barbie, kepala Geheime Staatspolizei (Gestapo – polisi rahasia Nazi) yang terkenal, saat menggerutu kepada anak buahnya. Namun, meskipun sudah merencanakan beberapa usaha kejam, Barbie tidak pernah bisa menangkap Hall.

Virginia Hall bukanlah orang Kanada, tapi fakta bahwa dia memiliki kaki pincang benar adanya. Ia pernah mengalami kecelakaan saat berburu sehingga kaki kiri di bawah lututnya harus diamputasi. Sebagai ganti kakinya, Hall memakai alat protestik dari kayu seberat tujuh pon yang ia beri nama Cuthbert.

Kisah Hidup Virginia Hall
Hall dibesarkan di Baltimore, Maryland, oleh keluarga kaya dan bijaksana yang tidak pernah membatasi potensi putri mereka. Dikenal atletis, lucu, dan kritis, Hall dipilih sebagai “murid paling orisinal di kelas”nya.

Ia kemudian memulai kuliah di Barnard dan Radcliffe, namun akhirnya menyelesaikan studi di Paris dan Wina. Karena hal itu, dia jadi fasih berbahasa Prancis, Jerman, Italia, dan sedikit Rusia.

Setelah lulus kuliah, Hall melamar kerja di Dinas Luar Negeri AS, karena ingin melihat dunia dan melayani negaranya. Ia pun terkejut saat menerina surat penolakan dengan alasan: “Tidak ada wanita di sini. Itu tidak akan terjadi”.

Tidak menyerah, menurut Judith Pearson, pengarang buku The Wolves at the Door: The True Story of America’s Greatest Female Spy, Hall memutuskan masuk ke Kementerian Luar Negeri melalui ‘jalur belakang’. Awalnya, ia bekerja sebagai juru ketik di Kedutaan Besar AS di Warsaw, kemudian di Konsulat AS di Turki.

Saat berburu dengan teman-temannya di Turki pada 1933 itu lah, Hall terhuyung ketika memanjat pagar kawat dan tanpa sengaja menembakkan senapan ke arah kaki kirinya.  

Kembali ke rumahnya di Maryland, Hall mencoba melamar kembali ke Dinas Luar Negeri. Ia kembali ditolak, bukan karena ia adalah wanita, tapi karena kaki Hall telah diamputasi.

Ia pun menyerah dan kembali ke Paris sebagai warga sipil pada 1940 – tepatnya pada malam invasi Jerman. Hall kemudian menjadi pengemudi ambulans untuk tentara Prancis  selama beberapa waktu. Ketika Prancis menyerah pada Nazi, ia melarikan diri ke Inggris.

Saat menghadiri pesta koktail di London, Hall menggebu-gebu menyatakan kebenciannya pada Nazi. Tak lama kemudian, ada orang asing yang tiba-tiba memberikannya kartu nama sambil berkata: “Jika Anda benar-benar tertarik menghentikan Hitler, datang dan temui saya.”

Seseorang yang memberikan kartu nama itu ternyata adalah Vera Atkins, pelatih mata-mata Special Operations Executive (SOE) Inggris. Atkins terkesan dengan pengetahuan Hall tentang wilayah pedesaan Prancis, kemampuan berbahasa asingnya dan keberaniannya yang tidak terlupakan.

Mata-Mata Perempuan yang Dibenci Nazi
Pada 1941, Hall menjadi mata-mata perempuan pertama yang ditempatkan di Prancis, lengkap dengan nama dan dokumen palsu sebagai reporter New York Post. Dengan cepat, Hall membuktikan kemahirannya, tidak hanya menyiarkan kemabli informasi yang disebarkan pasukan Jerman, tetapi juga dalam merekrut jaringan mata-mata yang setia di Prancis Tengah.

Misinya dari SOE adalah untuk membuat Eropa ‘terbakar’ dengan sabotase gerilya dan taktik subversi terhadap pasukan Nazi.

Hall sangat terkenal di kalangan pemimpin Nazi sehingga Gestapo menjulukinya “yang paling berbahaya dari semua mata-mata sekutu”.

Ketika Barbie dan Gestapo mulai menyebarkan poster buronan untuk menangkap “wanita pincang”, Hall melarikan diri sejauh mungkin. Melakukan perjalanan melelahkan sepanjang 50 mil melintasi pegunungan Pyrenees ke arah selatan Spanyol. Udara November kala itu sangat dingin dan alat prostetiknya semakin menyiksa.
Virginia Hall saat menerima penghargaan Distinguished Service Cross. (Dokumen: Erik Kirzinger via Washington Post)
Di tempat persembunyian di gunung, Hall melaporkan keadaannya kepada pemimpin di London: bahwa dirinya sehat, tapi alat protestiknya semakin menyulitkan.

Meski begitu, Hall tidak menyerah melawan Nazi. Karena SOE Inggris menolak mengirimnya kembali ke Prancis, Hall kemudian bergabung dengan Office of Strategic Service (OSS), lembaga pendahulu CIA.

Pada 1944, beberapa bulan sebelum invasi D-Day di Normandy, Hall mmengendarai kapal torpedo Inggris ke Prancis, dan menyamar sebagai seorang wanita petani berusia 60 tahun. Dalam salah satu laporan OSS, dikatakan bahwa tim Hall berhasil meledakkan empat jembatan yang menewaskan 150 anggota pasukan Nazi dan berhasil menangkap 500 lainnya.

Setelah perang, Hall dianugerahi Distinguished Service Cross, salah satu penghargaan militer tertinggi AS atas keberaniannya dalam pertempuran. Hall menjadi satu-satunya perempuan yang menerima penghargaan tersebut selama Perang Dunia II.

Kembali ke tanah airnya, ia kemudian lanjut bekerja bersama CIA hingga pensiun di usia 60. Hall meninggal pada 1982.


Sumber:
Editor:

Kisah Gurkha: Mogok Bertempur karena Adzan dan Takbir

Tentara Gurkha bertempur di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. (Dokumen: ANRI)
Presiden Pakistan Zia Ul Haq adalah komandan Gurkha yang bertempur di Surabaya.

Artikel yang ditulis oleh Muhammad Subarkah seorang jurnalis media Republika, ini, sebelumnya sudah pernah tayang di Republika.co.id, pada Sabtu, 10 November 2018.

‘’Kita bersaudara. Indonesia-Pakistan bersaudara!’’ begitulah pernyataan berbagai pejabat Pakistan ketika menerima kunjungan delegasi Indonesia. Menurut mereka jasa Indonesia sangat besar terhadap negaranya, terutama ketika India-Pakistan terlibat dalam konflik pada dekade 60-an.

Sosok Presiden Sukarno sangat terkenal di sana dan menghormatinya atau mendapat tempat khusus. Dia layaknya menjadi salah satu pemimpin penting di Asia yang juga menjadi Bapak Bangsa Pakistan: Muhammad Ali Jinnah.

‘’Merdeka…!’’ pekik perjuangan ini di Pakistan ternyata cukup dikenal. Ketua Parlemen Pakistan kerap menyatakannya ketika membuka percakapan dalam pertemuan dengan delegasi Indonesia. Mereka tampaknya juga tahu bahwa kata ‘merdeka’ itu serapan dari bahasa asal India (Sansekerta), yakni ‘maharddhi’ yang arti harfiahnya adalah kemakmuran, kesempurnaan besar, keunggulan, kesucian.

Tak hanya itu  kisah heroik angkatan perang Indonesia yang berani bertindak sebagai pihak pemisah ketika Pakistan dan India terlibat konflik. Keberanian para punggawa armada TNI angkatan laut ketika mencegah aksi penyerangan armada laut India terhadap armada kapal perang Pakistan mereka kenang sampai sekarang.

Namun, di antara sekian banyak tokoh Pakistan yang punya hubungan khusus dengan Indonesia setelah Ali Jinnah, adalah mendiang Presiden Muhammad Zia ul Haq. Bahkan, presiden yang meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat ini  punya hubungan emosi langsung dengan peristiwa pertempuran besar di Surabaya, pada 10 November 1945. Zia Ul Haq  pada saat itu datang bersama pasukan sekutu dan menjabat sebagai salah satu komandan Gurkha yang bertugas di Surabaya.

****

Namun ada yang abadi dalam mengenang pasukan Gurkha yang dahulu bertempur di Surabaya pada 10 Novermver 1945. Mereka ternyata sempat mogok bertempur karena mendengar suara adzan dan takbir!

Dan, sang komandannya yang pernah mengalami pertempuran langsung di Surabaya  pada 10 November 1945 itu adalah mantan Presden Pakistan Zia ul Haq. Semasa hidup dia selalu terkenang dengan kota yang terkenal dengan makanan rawon dan rujak cingurnya itu.

Bahkan, pada tahun 80-an, semasa Zia ul Haq menjabat sebagai presiden dan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, dia secara khusus meminta kepada Presiden Suharto agar bisa berkunjung ke Surabaya. Alasannya ingin melihat kembali kota itu.

Tentu saja, sebagai sesama mantan komandan tempur Suharto pun mengizinkannya. Dikabarkan saat Suharto menginyakan keinginannaya, wajah Zia ul Haq menjadi sumringah alias berseri-seri. Ini membutikan kenangan pertempuran besar antara tentara sekutu (Inggris dan Austalia yang di dalamnya ada legiun Gurkha) begitu dalam membekas dalam hatinya.

Memanhg Zia ul Haq saat itu hanya seorang tentara dan tidak tahu tetek bengek politik. Dia juga tak paham bahwa kedatangan bala tentaranya bersama pasukan Inggris yang saat itu sekutu saat itu diboncengi tentara Nica (Belanda) sebenarnya ingin menjajah kembali Indonesia.

Bagi kalangan rakyat yang sempat terlibat dalam peristiwa pertempuran itu, mereka juga melihat peran tentara Gurkha. Namun, mereka juga melihat keanehan ketika banyak diantara mereka yang mogok tak mau perang. Bahkan, beberapa orang malah melakukan disersi.

Mengapa demikian? Jawabnya karena tentara Gurkha yang salah satunya komandannya adalah Zia ul Haq tersebut terkejut ketika tiba di Surabaya dengan melihat banyaknya masjid dan meluasnya suara adzan ketika tiba waktu shalat. Mereka tiba-tiba sadar karena pihak yang mereka perangi adalah saudaranya sendiri, sesama Muslim. Maka mereka pun mogok tak mau bertempur.

Para legiun Gurkha itu pun kian kaget ketika ada seruan dari radio yang dikumandangkan Bung Tomo serta teriakan para pejuang di tengah pertempuran Surabaya adalah: 'Allahu Akbar!'. Maka praktis secara diam-diam sebagian tentara sekutu mengalami ‘demoralisasi’. Apalagi tentara Gurkha pun pada saat itu aktif mengerjakan shalat berjamaah di berbagai masjid bersama warga lokal. Nah, kenangan itulah yang dirasakan Zia ul Haq ketika menjadi komandan pasukan Gurkha di Surabaya. Dan memori ini lestari hingga dia menjabat sebagai Presiden Pakistan.

Pekik 'Allahu Akbar' yang terdengar di tegah pertempuran memang menjadi pertanda bahwa pertempuran itu merupakan ajang perang kaum santri. Mereka bergerak setelah Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari menyatakan perlawanan kepada penjajah adalah kewajiban setiap Muslim: Cinta tanah air adalah sebagian dari iman! Seruan pendiri NU ini tentu saja membakar semangat para santri yang datang dari berbagai pesantren yang tersebar, tak hanya dari seputaran Surabaya dan Jawa Timur saja, tapi hingga meluas di berbagai pesantren yang ada di Jawa Tengah dan Cirebon. Para santri itu datang untuk bertempur dengan naik kereta api ke Surabaya.

''Dua orang saudara kakek kami gugur dalam pertempuran di Surabaya. Mereka datang ke sana dengan naik kereta api dan tertembak ketika hendak masuk kota Surabaya dari arah Sidaorjo,'' begitu kata salah satu pengasuh pondok pesantren Somalagu, di desa Sumber Adi, Kebumen Jawa Tengah, beberapa waktu silam.

Dia mengatakan, mereka datang dan ikut bertempur melawan bala tentara Sekutu yang diboncengi Nica dengan semangat berjihad. Jadi masuk akal bila pasukan Gurkha yang salah satunya dikomandani Zia Ul Haq menjadi malas bertempur. Mereka tahu tak ingin tangannya berlumuran darah karena memerangi sesama Muslim.

****

Dalam percaturan militer di dunia, ada salah satu garnisun yang sangat disegani. Meraka adalah tentara legiun ‘Gurkha’. Legiun ini menjadi legendaris karena banyak terlibat dalam pertempuran besar dunia. Pihak Kerajaan Inggris memanfaatkan kemampuan tempur mereka yang luar biasa dengan melibatkannya ketika sekutu membombardir Surabaya pada 10 Oktober 1945.

Keahlian tempur mereka didapatan secara alami karena berasal dari suku yang terbiasa berperang.

Kebanggaan terhadap korps ini sangtlah besar. Sosok pasukan ini begitu diagungkan di Pakistan. Bahkan kegemilangannya selalu ditarik hingga peristiwa kekalahan pasukan Iskandar Zulkarnain, pada masa awal Masehi saat menyerbu wilayah  anak benua Asia, yakni India yang kemudian terpecah menjadi tiga negara yakni Pakistan, India, dan Bangladesh.

Sosok prajurit tempur itu juga terlihat secara jelas bila kemudian mengacu pada figur Zia ul Haq. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi jelas menjadi hal yang mencolok dan menegaskan bahwa dia adalah prajurit pilihan.

Sosok seperti ini pun akan mudah terlihat bila melihat pada figur sebagian sosok petugas keamanan dan tentara di Pakistan pada masa kini. Tinggi badan mereka menjulang, rata-rata sektar 190 cm.

‘’Kemampuan tempur mereka ditempa oleh alam yang keras.

"Mereka bisa bertempur dengan baik berhari-hari meski hanya berbekal sepotong roti tawar dan beberapa liter air putih,’’ begitu kisah seorang petinggi militer Pakistan, beberapa waktu silam ketika menerima kunjungan wartawan dari Indonesia.


Sumber:
Editor:

Percakapan Seokarno dan Seorang Petani Bernama Marhaen

Bung Karno melihat patung Marhaen. (Dokumen: Arsip Nasional)
Percakapan ini terjadi sekitar tahun 1926. Saat itu, Seokarno yang sedang berkeliling menggunakan sepedanya berhenti dan bertemu dengan seorang petani di sebuah persawahan di selatan Kota Bandung, Jawa Barat. Petani yang kala itu sedang menggarap sawahnya diajak berbincang oleh Seokarno.

“Siapakah pemilik tanah dari yang kau harap ini?”
“Saya juragan.”
“Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”
“O, tidak gan.”
“Apakah kau membeli tanah ini?”
“Tidak, itu turun temurun diwariskan dari orang tua kepada anaknya.”
“Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah milikmu juga?”
“Ya, gan.”
“Dan cangkul itu?”
“Ya, gan.”
“Bajak?”
“Milik saya, gan”
“Lalu hasilnya untuk siapa?”
“Untuk saya, gan.”
“Apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?”

Petani itu lalu mengangkat bahu mengisyaratkan kekecewaannya bahwa hasilnya belum sesuai kebutuhan.

“Bagaimana mana mungkin sawah yang begini sempit bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan empat anak?”
“Apakah kau menjual sebagian hasilnya itu?”
“Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”
“Apakah kau memperkerjakan orang lain?”
“Tidak, gan. Saya tidak mampu membayarnya.”
“Apakah engkau pernah kerja pada orang lain?”
“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, tetapi jerih payah saya semua untuk diri saya.”

Lalu Soekarno menunjuk sebuah gubuk kecil dan kembali mengutarakan pertanyaan kepada petani itu.

“Siapa pemilik rumah itu?”
“Itu rumah saya gan. Kecil, tetapi milik saya sendiri.”
“Jadi kalau begitu, semua ini milikmu?”
“Ya, gan.”

Sebelum mengakhiri perbincangan, soekarno menanyakan nama dari petani itu dan ia menyebutkan Marhaen.


Sumber:
Adams, Cindy. 2014. Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat (Edisi Revisi, Cetakan Keempat). Jakarta: Yayasan Bung Karno.
Editor:

Situs sejarah Cot Kuprah di Aceh Utara Butuh Pemugaran

Situs sejarah Cot Kuprah di Aceh Utara Butuh Pemugaran

@Dok. Istimewa
Lhoksukon - Muspika Nibong bersama puluhan mahasiswa UIN Ar-Raniry mengikuti meuseuraya, di sejumlah kompleks makam peninggalan era Samudra Pasai di Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Minggu (30/9).

Meuseuraya atau gotong royong itu untuk membersihkan kompleks makam. Dan mengangkat nisan-nisan bersejarah yang sudah terbenam untuk ditata kembali yang ada di Gampong Bomban, Alue Ngom dan Maddi, Kecamatan Nibong.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir dari Muspika Nibong Camat Fauzi Saputra, Ketua MPU Tgk. Warwan, dan Ketua MAA Tgk. Zaibuddin.

Meuseuraya tersebut dipandu oleh tim Centre Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah), juga melibatkan Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa), Pramuka Kwartir Ranting Tanah Luas, tokoh adat Nibong, dan perwakilan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara

“Dari UIN Ar-Raniry hadir 68 mahasiswa dan dosen,” kata Ketua Cisah, Abdul Hamid alias Abel Pasai.

Ia mengapresiasi para mahasiswa yang datang dari Banda Aceh untuk meuseuraya di kawasan Kerajaan Islam Samudra Pasai. Sementara itu Geuchik Gampong Bumban, Alamsyah kepada kanalaceh.com mengatakan, pihaknya akan menghibahkan tanah miliknya seluas 15x 15 M yang berada di lokasi situs Sejarah tersebut.

Alamsyah juga berterimakasih kepada lembaga Cisah dan Pelisa yang telah mengunjungi Citus Sejarah Tgk Cot Kuprah yang berada di kebunnya. Harapannya, agar kedepan situs itu bisa dilestarikan dan dijaga sebaik mungkin.

Untuk bisa tiba kelokasi situs sejarah tersebut, harus berjalan menempuh area gunung Cot Kuprah dengan berjalan kaki.

Untuk itu, Alamsyah mengharapkan agar lokasi situs sejarah itu di bangun infrastruktur dan pemugaran oleh Pemerintah Daerah.

“Kami harap Pemkab Aceh Utara untuk membantu pembangunan Infrastruktur dan pemugaran, selain bisa kita kembangkan untuk objek wisata Sejarah,” ucapnya.

Sumber:
Back To Top