Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Menulis Sejarah l Catatan Dunia
Catatan Tiongkok Tentang Raja Arab Di Nusantara

Catatan Tiongkok Tentang Raja Arab Di Nusantara

Diorama pedagang Arab di Malaka di Museum Istana Kesultanan Melaka. (Doc. Istimewa)
Catatan Tiongkok mengungkap adanya permukiman orang-orang Arab awal di Nusantara. Di manakah letaknya?

Seorang penguasa Arab, Raja Da-zi mengirimkan sebuah tas yang berisi uang, meletakannya di perbatasan negara Ratu Sima. Sang Ratu di Jawa itu membuat Raja Da-zi penasaran karena ketegasannya menghukum mereka yang tak jujur. Tiga tahun berlalu, tas itu tak tersentuh. Orang-orang hanya melihatnya. Tak ada yang berani mengambilnya.

Suatu hari, putra mahkota tanpa sengaja menyentuh tas itu. Ratu Sima marah besar sampai ingin membunuhnya. Namun, para menteri keburu mencegahhnya. “Kesalahanmu terletak di kakimu, karena itu sudah memadai jika kakimu dipotong,” kata sang ratu.

Para menteri kembali menghalanginya. Akhirnya, Ratu Sima hanya memotong ibu jari kaki sang pangeran. Raja Da-zi pun takut dan tak berani menyerang negara sang ratu.

Demikian kesaksian utusan Tiongkok yang diabadikan dalam Sejarah Baru Dinasti Tang. Tercatat pada 674 M, Ratu Sima ditahbiskan sebagai pemimpin perempuan di Ho-Ling. Menariknya dalam catatan itu Raja Da-zi dikaitkan dengan orang Arab.

Siapakah Da-zi atau Ta-shih?
Da-zi atau Ta-shih tak hanya disebut dalam sumber Tiongkok abad ke-7 M. Arkeolog Uka Tjandrasasmita dalam Pertumbuhan dan Perkembangan Kota-Kota Muslim di Indonesia menjelaskan adanya sumber Jepang dari tahun 748 M. Sumber itu antara lain menceritakan banyak kapal Po-sse dan Ta-shih Kuo yang berlabuh di Khanfu (Kanton).

Demikian pula Chau-ju-kua, seorang pemeriksa pabean di Quanzhou, dalam karyanya Chu-fan-chi (1225 M) yang mengutip karya Chau-ku-fei (1178 M). Karya ini masih menceritakan adanya koloni orang-orang Ta-shih.

Nurni Wahyu Wuryandari, peneliti dari Pusat Studi Cina Universitas Indonesia menjelaskan, penyebutan Da-zi atau Ta-shih muncul juga dalam catatan Sejarah Dinasti Sung. Ta-shih disebutkan ketika catatan itu menjelaskan rute pelayaran dari Tiongkok ke Jawa.

“Mereka ke Jawa mulai dari Guangzou, lalu ke Tumasik, ada perdebatan Tumasik itu Singapura. Dalam konteks ini Singapura cocok. Tapi Ta-shih juga bisa berarti kerajaan Arab sebetulnya. Lalu masuk Sriwijaya, baru ke Jawa. Pulangnya lewat Sriwijaya lagi, Kuala Terengganu dan ke atas kembali ke Tiongkok,” kata Nurni dalam acara Borobudur Writers Cultural and Festival ke-7, di Hotel Manohara, Magelang.

Rita Rose di Meglio juga menyamakan Ta-shih pada abad ke-7 M dengan orang Arab. Dalam "Arab Trade With Indonesia And The Malay Peninsula From the 8th to 16th Century" dalam Islam: The Trade of Asia, Rita menjelaskan bahwa Ta-shih bukan untuk disamakan dengan orang-orang muslim lainnya dari India.

Penafsiran lebih jelas dilakukan oleh W.P. Groeneveldt dalam Nusantara dalam Catatan Tionghoa. Dia menulis, Ta-shih atau olehnya disebut Da-zi, merupakan nama yang umum digunakan untuk bangsa Arab dalam catatan-catatan sejarah Tiongkok.

Lebih jauh Groeneveldt menjelaskan Da-zi berada di pantai barat Sumatra. Lokasi ini tak pernah dijelaskan dalam literatur geografi Tiongkok. Sepertinya tak ada perdagangan atau kontak dengan wilayah itu. Maka, ketika wilayah ini dijelaskan, seringkali disamakan dengan Persia atau mayoritas dengan Arabia.

“Sepertinya, permukiman Arab telah ada di pantai barat Sumatra sejak lama. Akibatnya, sejumlah penulis Tionghoa menyamakan negara ini dengan Arabia,” ujarnya.

Seorang penulis, Dong Xi Yang Kao, bahkan menyatakan cerita Nabi Muhammad terjadi di pantai ini. Groeneveldt pun menilai, raja orang Arab yang tertera dalam catatan Tiongkok itu mungkin hanyalah pemimpin permukiman Arab di pulau itu saja.

Letak perkampungan orang Arab
Menurut Uka, letak perkampungan awal orang-orang Arab itu sulit dipastikan mengingat penafsiran dan penempatan Ta-shih dari masa ke masa berbeda-beda.

Salah satunya Haiguo Tuzhi, karya sarjana Tiongkok, Wei Yuan yang terbit pada 1844. Dia sudah mencantumkan peta Eropa yang benar berdasarkan sumber Eropa. Namun, dia masih mencatumkan peta historis Asia Tenggara dalam model yang lama. Petanya membagi Jawa menjadi dua buah pulau terpisah. Dia meletakkan orang Da-zi sejauh lima hari pelayaran dari pantai Jawa. Mereka tinggal di pantai barat Sumatra dan tak terlalu jauh ke utara.

Kemudian, jika Groeneveldt menaksir Ta-shih adalah orang-orang Arab yang letak perkampungannya di pesisir barat Sumatra, maka sejarawan Paul Wheatley menebak letaknya ada di Kuala Brang, sekitar 25 mil dari Sungai Trengganu.

Sedangkan peneliti Malaysia, Syed Muhammad Naquib al-Attas, memperkirakan tempatnya ialah Palembang, Sumatra Selatan.

“Dari perbedaan itu, dapat diambil kesamaan kalau perkampungan orang Ta-Shih dan orang Arab sesungguhnya berada di Asia Tenggara yang tidak dapat dipisahkan dari peran Selat Malaka sebagai jalur perdagangan internasional,” lanjut Uka.

Keberadaan orang Arab ini kemudian memunculkan asumsi lain. Uka mengaitkannya dengan kemungkinan kedatangan Islam di Nusantara. Dia mengatakan berdasarkan catatan itu bisa jadi Islam dibawa langsung oleh orang Arab dari negeri asalnya.

“Maka, timbulah perkiraan kalau pada abad ke-7 M atau abad pertama hijriah orang-orang muslim sudah datang dan mempunyai perkampungan di Indonesia,” kata Uka.

Dalam Arkeologi Nusantara, Uka juga menyebut bahwa pedagang Arab (Ta-shih) juga Persia (Po-sse) yang datang ke Sumatra, khususnya Jambi dibuktikan oleh catatan Tionghoa abad ke-9 M, yaitu Pei Hu Lu (875 M). Disebutkan di sana kedatangan Ta-shih dan Po-sse ke Chan Pei untuk membeli buah pinang.

Namun, pada waktu itu Islam belum berkembang secara luas di kawasan ini. Menurut cerita lokal Jambi, Islam baru berkembang secara luas ketika berada di bawah kekuasaan Orang Kayo Hitam, salah satu sultan yang terkenal dari Jambi yang berkuasa sejak permulaan abad ke-16.

Menurut Uka, terlepas ketidaksepahaman penafsiran Ta-shih dan letaknya, yang jelas pada abad ke-7 dan 8 M tidak mustahil orang muslim sudah banyak yang berhubungan dengan orang Nusantara dan negeri-negeri Asia Tenggara lainnya serta Asia Timur. Mereka bisa saja dari Arab, Persia, maupun India.[]


Sumber: 
Historia.id
Editor:

Virginia Hall, Mata-mata Perempuan Paling Berbahaya di Perang Dunia II

Virginia Hall. (Dokumen: CIA Gov)
Tulisan mengenai Virginia Hall, Mata-mata Perempuan Paling Berbahaya di Perang Dunia II sebelumnya pernah dipublikasikan di nationalgeographic.grid.id, pada Kamis, 1 November 2018.

****

Selama Perang Dunia II, pemerintah Nazi terus memburu para pemberontak dan mata-mata sekutu. Selain itu, ada satu operasi khusus yang dilakukan Reich Ketiga untuk menangkap mata-mata yang membocorkan misi Nazi. Nama mata-mata tersebut adalah Virginia Hall, tapi Nazi lebih sering menyebutnya dengan “wanita pincang”.

“Saya akan memberikan apa pun asal bisa menangkap wanita Kanada pincang itu,” ucap Klaus Barbie, kepala Geheime Staatspolizei (Gestapo – polisi rahasia Nazi) yang terkenal, saat menggerutu kepada anak buahnya. Namun, meskipun sudah merencanakan beberapa usaha kejam, Barbie tidak pernah bisa menangkap Hall.

Virginia Hall bukanlah orang Kanada, tapi fakta bahwa dia memiliki kaki pincang benar adanya. Ia pernah mengalami kecelakaan saat berburu sehingga kaki kiri di bawah lututnya harus diamputasi. Sebagai ganti kakinya, Hall memakai alat protestik dari kayu seberat tujuh pon yang ia beri nama Cuthbert.

Kisah Hidup Virginia Hall
Hall dibesarkan di Baltimore, Maryland, oleh keluarga kaya dan bijaksana yang tidak pernah membatasi potensi putri mereka. Dikenal atletis, lucu, dan kritis, Hall dipilih sebagai “murid paling orisinal di kelas”nya.

Ia kemudian memulai kuliah di Barnard dan Radcliffe, namun akhirnya menyelesaikan studi di Paris dan Wina. Karena hal itu, dia jadi fasih berbahasa Prancis, Jerman, Italia, dan sedikit Rusia.

Setelah lulus kuliah, Hall melamar kerja di Dinas Luar Negeri AS, karena ingin melihat dunia dan melayani negaranya. Ia pun terkejut saat menerina surat penolakan dengan alasan: “Tidak ada wanita di sini. Itu tidak akan terjadi”.

Tidak menyerah, menurut Judith Pearson, pengarang buku The Wolves at the Door: The True Story of America’s Greatest Female Spy, Hall memutuskan masuk ke Kementerian Luar Negeri melalui ‘jalur belakang’. Awalnya, ia bekerja sebagai juru ketik di Kedutaan Besar AS di Warsaw, kemudian di Konsulat AS di Turki.

Saat berburu dengan teman-temannya di Turki pada 1933 itu lah, Hall terhuyung ketika memanjat pagar kawat dan tanpa sengaja menembakkan senapan ke arah kaki kirinya.  

Kembali ke rumahnya di Maryland, Hall mencoba melamar kembali ke Dinas Luar Negeri. Ia kembali ditolak, bukan karena ia adalah wanita, tapi karena kaki Hall telah diamputasi.

Ia pun menyerah dan kembali ke Paris sebagai warga sipil pada 1940 – tepatnya pada malam invasi Jerman. Hall kemudian menjadi pengemudi ambulans untuk tentara Prancis  selama beberapa waktu. Ketika Prancis menyerah pada Nazi, ia melarikan diri ke Inggris.

Saat menghadiri pesta koktail di London, Hall menggebu-gebu menyatakan kebenciannya pada Nazi. Tak lama kemudian, ada orang asing yang tiba-tiba memberikannya kartu nama sambil berkata: “Jika Anda benar-benar tertarik menghentikan Hitler, datang dan temui saya.”

Seseorang yang memberikan kartu nama itu ternyata adalah Vera Atkins, pelatih mata-mata Special Operations Executive (SOE) Inggris. Atkins terkesan dengan pengetahuan Hall tentang wilayah pedesaan Prancis, kemampuan berbahasa asingnya dan keberaniannya yang tidak terlupakan.

Mata-Mata Perempuan yang Dibenci Nazi
Pada 1941, Hall menjadi mata-mata perempuan pertama yang ditempatkan di Prancis, lengkap dengan nama dan dokumen palsu sebagai reporter New York Post. Dengan cepat, Hall membuktikan kemahirannya, tidak hanya menyiarkan kemabli informasi yang disebarkan pasukan Jerman, tetapi juga dalam merekrut jaringan mata-mata yang setia di Prancis Tengah.

Misinya dari SOE adalah untuk membuat Eropa ‘terbakar’ dengan sabotase gerilya dan taktik subversi terhadap pasukan Nazi.

Hall sangat terkenal di kalangan pemimpin Nazi sehingga Gestapo menjulukinya “yang paling berbahaya dari semua mata-mata sekutu”.

Ketika Barbie dan Gestapo mulai menyebarkan poster buronan untuk menangkap “wanita pincang”, Hall melarikan diri sejauh mungkin. Melakukan perjalanan melelahkan sepanjang 50 mil melintasi pegunungan Pyrenees ke arah selatan Spanyol. Udara November kala itu sangat dingin dan alat prostetiknya semakin menyiksa.
Virginia Hall saat menerima penghargaan Distinguished Service Cross. (Dokumen: Erik Kirzinger via Washington Post)
Di tempat persembunyian di gunung, Hall melaporkan keadaannya kepada pemimpin di London: bahwa dirinya sehat, tapi alat protestiknya semakin menyulitkan.

Meski begitu, Hall tidak menyerah melawan Nazi. Karena SOE Inggris menolak mengirimnya kembali ke Prancis, Hall kemudian bergabung dengan Office of Strategic Service (OSS), lembaga pendahulu CIA.

Pada 1944, beberapa bulan sebelum invasi D-Day di Normandy, Hall mmengendarai kapal torpedo Inggris ke Prancis, dan menyamar sebagai seorang wanita petani berusia 60 tahun. Dalam salah satu laporan OSS, dikatakan bahwa tim Hall berhasil meledakkan empat jembatan yang menewaskan 150 anggota pasukan Nazi dan berhasil menangkap 500 lainnya.

Setelah perang, Hall dianugerahi Distinguished Service Cross, salah satu penghargaan militer tertinggi AS atas keberaniannya dalam pertempuran. Hall menjadi satu-satunya perempuan yang menerima penghargaan tersebut selama Perang Dunia II.

Kembali ke tanah airnya, ia kemudian lanjut bekerja bersama CIA hingga pensiun di usia 60. Hall meninggal pada 1982.


Sumber:
Editor:

Kisah Gurkha: Mogok Bertempur karena Adzan dan Takbir

Tentara Gurkha bertempur di Surabaya pada tanggal 10 November 1945. (Dokumen: ANRI)
Presiden Pakistan Zia Ul Haq adalah komandan Gurkha yang bertempur di Surabaya.

Artikel yang ditulis oleh Muhammad Subarkah seorang jurnalis media Republika, ini, sebelumnya sudah pernah tayang di Republika.co.id, pada Sabtu, 10 November 2018.

‘’Kita bersaudara. Indonesia-Pakistan bersaudara!’’ begitulah pernyataan berbagai pejabat Pakistan ketika menerima kunjungan delegasi Indonesia. Menurut mereka jasa Indonesia sangat besar terhadap negaranya, terutama ketika India-Pakistan terlibat dalam konflik pada dekade 60-an.

Sosok Presiden Sukarno sangat terkenal di sana dan menghormatinya atau mendapat tempat khusus. Dia layaknya menjadi salah satu pemimpin penting di Asia yang juga menjadi Bapak Bangsa Pakistan: Muhammad Ali Jinnah.

‘’Merdeka…!’’ pekik perjuangan ini di Pakistan ternyata cukup dikenal. Ketua Parlemen Pakistan kerap menyatakannya ketika membuka percakapan dalam pertemuan dengan delegasi Indonesia. Mereka tampaknya juga tahu bahwa kata ‘merdeka’ itu serapan dari bahasa asal India (Sansekerta), yakni ‘maharddhi’ yang arti harfiahnya adalah kemakmuran, kesempurnaan besar, keunggulan, kesucian.

Tak hanya itu  kisah heroik angkatan perang Indonesia yang berani bertindak sebagai pihak pemisah ketika Pakistan dan India terlibat konflik. Keberanian para punggawa armada TNI angkatan laut ketika mencegah aksi penyerangan armada laut India terhadap armada kapal perang Pakistan mereka kenang sampai sekarang.

Namun, di antara sekian banyak tokoh Pakistan yang punya hubungan khusus dengan Indonesia setelah Ali Jinnah, adalah mendiang Presiden Muhammad Zia ul Haq. Bahkan, presiden yang meninggal dunia akibat kecelakaan pesawat ini  punya hubungan emosi langsung dengan peristiwa pertempuran besar di Surabaya, pada 10 November 1945. Zia Ul Haq  pada saat itu datang bersama pasukan sekutu dan menjabat sebagai salah satu komandan Gurkha yang bertugas di Surabaya.

****

Namun ada yang abadi dalam mengenang pasukan Gurkha yang dahulu bertempur di Surabaya pada 10 Novermver 1945. Mereka ternyata sempat mogok bertempur karena mendengar suara adzan dan takbir!

Dan, sang komandannya yang pernah mengalami pertempuran langsung di Surabaya  pada 10 November 1945 itu adalah mantan Presden Pakistan Zia ul Haq. Semasa hidup dia selalu terkenang dengan kota yang terkenal dengan makanan rawon dan rujak cingurnya itu.

Bahkan, pada tahun 80-an, semasa Zia ul Haq menjabat sebagai presiden dan melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia, dia secara khusus meminta kepada Presiden Suharto agar bisa berkunjung ke Surabaya. Alasannya ingin melihat kembali kota itu.

Tentu saja, sebagai sesama mantan komandan tempur Suharto pun mengizinkannya. Dikabarkan saat Suharto menginyakan keinginannaya, wajah Zia ul Haq menjadi sumringah alias berseri-seri. Ini membutikan kenangan pertempuran besar antara tentara sekutu (Inggris dan Austalia yang di dalamnya ada legiun Gurkha) begitu dalam membekas dalam hatinya.

Memanhg Zia ul Haq saat itu hanya seorang tentara dan tidak tahu tetek bengek politik. Dia juga tak paham bahwa kedatangan bala tentaranya bersama pasukan Inggris yang saat itu sekutu saat itu diboncengi tentara Nica (Belanda) sebenarnya ingin menjajah kembali Indonesia.

Bagi kalangan rakyat yang sempat terlibat dalam peristiwa pertempuran itu, mereka juga melihat peran tentara Gurkha. Namun, mereka juga melihat keanehan ketika banyak diantara mereka yang mogok tak mau perang. Bahkan, beberapa orang malah melakukan disersi.

Mengapa demikian? Jawabnya karena tentara Gurkha yang salah satunya komandannya adalah Zia ul Haq tersebut terkejut ketika tiba di Surabaya dengan melihat banyaknya masjid dan meluasnya suara adzan ketika tiba waktu shalat. Mereka tiba-tiba sadar karena pihak yang mereka perangi adalah saudaranya sendiri, sesama Muslim. Maka mereka pun mogok tak mau bertempur.

Para legiun Gurkha itu pun kian kaget ketika ada seruan dari radio yang dikumandangkan Bung Tomo serta teriakan para pejuang di tengah pertempuran Surabaya adalah: 'Allahu Akbar!'. Maka praktis secara diam-diam sebagian tentara sekutu mengalami ‘demoralisasi’. Apalagi tentara Gurkha pun pada saat itu aktif mengerjakan shalat berjamaah di berbagai masjid bersama warga lokal. Nah, kenangan itulah yang dirasakan Zia ul Haq ketika menjadi komandan pasukan Gurkha di Surabaya. Dan memori ini lestari hingga dia menjabat sebagai Presiden Pakistan.

Pekik 'Allahu Akbar' yang terdengar di tegah pertempuran memang menjadi pertanda bahwa pertempuran itu merupakan ajang perang kaum santri. Mereka bergerak setelah Hadratus Syekh Hasyim Asy'ari menyatakan perlawanan kepada penjajah adalah kewajiban setiap Muslim: Cinta tanah air adalah sebagian dari iman! Seruan pendiri NU ini tentu saja membakar semangat para santri yang datang dari berbagai pesantren yang tersebar, tak hanya dari seputaran Surabaya dan Jawa Timur saja, tapi hingga meluas di berbagai pesantren yang ada di Jawa Tengah dan Cirebon. Para santri itu datang untuk bertempur dengan naik kereta api ke Surabaya.

''Dua orang saudara kakek kami gugur dalam pertempuran di Surabaya. Mereka datang ke sana dengan naik kereta api dan tertembak ketika hendak masuk kota Surabaya dari arah Sidaorjo,'' begitu kata salah satu pengasuh pondok pesantren Somalagu, di desa Sumber Adi, Kebumen Jawa Tengah, beberapa waktu silam.

Dia mengatakan, mereka datang dan ikut bertempur melawan bala tentara Sekutu yang diboncengi Nica dengan semangat berjihad. Jadi masuk akal bila pasukan Gurkha yang salah satunya dikomandani Zia Ul Haq menjadi malas bertempur. Mereka tahu tak ingin tangannya berlumuran darah karena memerangi sesama Muslim.

****

Dalam percaturan militer di dunia, ada salah satu garnisun yang sangat disegani. Meraka adalah tentara legiun ‘Gurkha’. Legiun ini menjadi legendaris karena banyak terlibat dalam pertempuran besar dunia. Pihak Kerajaan Inggris memanfaatkan kemampuan tempur mereka yang luar biasa dengan melibatkannya ketika sekutu membombardir Surabaya pada 10 Oktober 1945.

Keahlian tempur mereka didapatan secara alami karena berasal dari suku yang terbiasa berperang.

Kebanggaan terhadap korps ini sangtlah besar. Sosok pasukan ini begitu diagungkan di Pakistan. Bahkan kegemilangannya selalu ditarik hingga peristiwa kekalahan pasukan Iskandar Zulkarnain, pada masa awal Masehi saat menyerbu wilayah  anak benua Asia, yakni India yang kemudian terpecah menjadi tiga negara yakni Pakistan, India, dan Bangladesh.

Sosok prajurit tempur itu juga terlihat secara jelas bila kemudian mengacu pada figur Zia ul Haq. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi jelas menjadi hal yang mencolok dan menegaskan bahwa dia adalah prajurit pilihan.

Sosok seperti ini pun akan mudah terlihat bila melihat pada figur sebagian sosok petugas keamanan dan tentara di Pakistan pada masa kini. Tinggi badan mereka menjulang, rata-rata sektar 190 cm.

‘’Kemampuan tempur mereka ditempa oleh alam yang keras.

"Mereka bisa bertempur dengan baik berhari-hari meski hanya berbekal sepotong roti tawar dan beberapa liter air putih,’’ begitu kisah seorang petinggi militer Pakistan, beberapa waktu silam ketika menerima kunjungan wartawan dari Indonesia.


Sumber:
Editor:

Percakapan Seokarno dan Seorang Petani Bernama Marhaen

Bung Karno melihat patung Marhaen. (Dokumen: Arsip Nasional)
Percakapan ini terjadi sekitar tahun 1926. Saat itu, Seokarno yang sedang berkeliling menggunakan sepedanya berhenti dan bertemu dengan seorang petani di sebuah persawahan di selatan Kota Bandung, Jawa Barat. Petani yang kala itu sedang menggarap sawahnya diajak berbincang oleh Seokarno.

“Siapakah pemilik tanah dari yang kau harap ini?”
“Saya juragan.”
“Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”
“O, tidak gan.”
“Apakah kau membeli tanah ini?”
“Tidak, itu turun temurun diwariskan dari orang tua kepada anaknya.”
“Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah milikmu juga?”
“Ya, gan.”
“Dan cangkul itu?”
“Ya, gan.”
“Bajak?”
“Milik saya, gan”
“Lalu hasilnya untuk siapa?”
“Untuk saya, gan.”
“Apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?”

Petani itu lalu mengangkat bahu mengisyaratkan kekecewaannya bahwa hasilnya belum sesuai kebutuhan.

“Bagaimana mana mungkin sawah yang begini sempit bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan empat anak?”
“Apakah kau menjual sebagian hasilnya itu?”
“Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”
“Apakah kau memperkerjakan orang lain?”
“Tidak, gan. Saya tidak mampu membayarnya.”
“Apakah engkau pernah kerja pada orang lain?”
“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, tetapi jerih payah saya semua untuk diri saya.”

Lalu Soekarno menunjuk sebuah gubuk kecil dan kembali mengutarakan pertanyaan kepada petani itu.

“Siapa pemilik rumah itu?”
“Itu rumah saya gan. Kecil, tetapi milik saya sendiri.”
“Jadi kalau begitu, semua ini milikmu?”
“Ya, gan.”

Sebelum mengakhiri perbincangan, soekarno menanyakan nama dari petani itu dan ia menyebutkan Marhaen.


Sumber:
Adams, Cindy. 2014. Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat (Edisi Revisi, Cetakan Keempat). Jakarta: Yayasan Bung Karno.
Editor:

Situs sejarah Cot Kuprah di Aceh Utara Butuh Pemugaran

Situs sejarah Cot Kuprah di Aceh Utara Butuh Pemugaran

@Dok. Istimewa
Lhoksukon - Muspika Nibong bersama puluhan mahasiswa UIN Ar-Raniry mengikuti meuseuraya, di sejumlah kompleks makam peninggalan era Samudra Pasai di Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Minggu (30/9).

Meuseuraya atau gotong royong itu untuk membersihkan kompleks makam. Dan mengangkat nisan-nisan bersejarah yang sudah terbenam untuk ditata kembali yang ada di Gampong Bomban, Alue Ngom dan Maddi, Kecamatan Nibong.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir dari Muspika Nibong Camat Fauzi Saputra, Ketua MPU Tgk. Warwan, dan Ketua MAA Tgk. Zaibuddin.

Meuseuraya tersebut dipandu oleh tim Centre Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah), juga melibatkan Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa), Pramuka Kwartir Ranting Tanah Luas, tokoh adat Nibong, dan perwakilan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara

“Dari UIN Ar-Raniry hadir 68 mahasiswa dan dosen,” kata Ketua Cisah, Abdul Hamid alias Abel Pasai.

Ia mengapresiasi para mahasiswa yang datang dari Banda Aceh untuk meuseuraya di kawasan Kerajaan Islam Samudra Pasai. Sementara itu Geuchik Gampong Bumban, Alamsyah kepada kanalaceh.com mengatakan, pihaknya akan menghibahkan tanah miliknya seluas 15x 15 M yang berada di lokasi situs Sejarah tersebut.

Alamsyah juga berterimakasih kepada lembaga Cisah dan Pelisa yang telah mengunjungi Citus Sejarah Tgk Cot Kuprah yang berada di kebunnya. Harapannya, agar kedepan situs itu bisa dilestarikan dan dijaga sebaik mungkin.

Untuk bisa tiba kelokasi situs sejarah tersebut, harus berjalan menempuh area gunung Cot Kuprah dengan berjalan kaki.

Untuk itu, Alamsyah mengharapkan agar lokasi situs sejarah itu di bangun infrastruktur dan pemugaran oleh Pemerintah Daerah.

“Kami harap Pemkab Aceh Utara untuk membantu pembangunan Infrastruktur dan pemugaran, selain bisa kita kembangkan untuk objek wisata Sejarah,” ucapnya.

Sumber:

Jejak Peadaban Islam di Selatan Italia

Jejak Peadaban Islam di Selatan Italia

Islam di Sisilia @Dok. Istimewa
Pada abad ke- 9 hingga 11 M, peradaban Islam pernah menguasai Italia Selatan.

Italia menjadi rumah bagi sekitar 850 ribu Muslim. Islam memiliki sejarah yang panjang dengan Italia. 

Betapa tidak. Pada abad ke-9 hingga 11 M, peradaban Islam pernah menguasai bagian selatan negara yang kini memiliki penduduk terbesar keenam di Eropa dan terpadat ke-23 di dunia itu.

Jejak peradaban Islam di Italia bagian selatan telah dimulai ketika Sicilia jatuh dalam genggaman kaum Muslim. Peradaban Islam mulai bersemi di Sicilia sejak 15 Juli 827 M. Ketika itu, pasukan tentara Dinasti Aghlabid atau Aghlabiyah di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I berhasil menaklukkan kekuasaan Bizantium.

Dinasti Aghlabid merupakan kerajaan Islam yang berada dalam lindungan Kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti itu menguasai Ifriqiyah meliputi Aljazair, Tunisia, dan Tripoli. Dinasti yang berkuasa dari tahun 800 M hingga 909 M itu berpusat di Tunisia.

Diperkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda, serta 100 armada kapal, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran di dekat Mazara. Secara resmi, Kota Palermo--ibu kota Sicilia--ditaklukkan umat Islam pada 831 M.

Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordoba. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tak hanya menjadi tempat beribadah semata. Masjid-masjid itu juga berfungsi sebagai sekolah--tempat berse- mainya benih peradaban dan ilmu pengetahuan.

Di bawah kekuasaan Islam, Sicilia memiliki universitas Islam terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa. Tak heran, bila begitu banyak remaja dan anak muda dari berbagai penjuru Eropa menimba ilmu di sekolah dan universitas Islam di Sicilia.

`'Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengombi- nasikan kekayaan dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan,''

papar Ibnu Jubair, seorang penjelajah Muslim, memberi sebuah kesaksian tentang kemajuan yang berhasil dicapai penguasa Muslim di Sicilia. Periode kekuasaan Islam di Sicilia merupakan tahap awal revolusi perdagangan di abad pertengahan.

Pada era itulah masyarakat Sicilia merasakan kemakmuran dalam pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menje- laskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di dunia Mediterania.

Umat Islam menguasai peradaban di Sicilia hingga 1061 M. Perdaban Islam di wilayah itu dikembangkan oleh sejumlah dinasti Islam, antara lain Dinasti Aghlabid atau Aghlabiyah (827 M909 M). Setelah itu, kekuasaan Islam di wilayah itu jatuh di tangan Dinasti Fatimiyah, sebuah kekhalifahan Islam bermazhab Syiah yang berpusat di Mesir.

Kekuasaan atas Sicilia terlepas pada abad ke-11 M, ketika wilayah itu dikuasai oleh Emirat Sicilia. Pasukan Emir Abu Al- Qasim (964 M982 M) terus digempur Bizantium. Kekuasaan Islam pun meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam.

Pada 1061 M, Sicilia pun lepas dari tangan umat Islam. Kehadiran peradaban Islam di Sicilia merupakan berkah bagi peradaban Barat. Sebab, dari wilayah itulah Barat men- transfer pengetahuannya dari dunia Islam.

Sumber:

Bapak Pelopor Kapitalisme

Adam Smith

Bapak Pelopor Kapitalisme

(Doc. Istimewa)
John Adam Smith atau biasa dikenal dengan Adam Smith adalah seoran ekonomi pelopor kapitalisme. Ia lahir di Kirkcaldy, Skotlandia pada 6 Juni 1723 dan meninggal di Edinburgh, Skotlandia, 17 Juli 1970 pada umur 63 tahun.

Dalam sejarah perjalan hidupnya, dia kemudian dikenal sebagai seorang filsuf yang dikenal sebagai pelopor ilmu ekonomi modern dan dari situlah Adam Smith telah mendapatkan sebuah gelar sebagai Bapak Ekonomi Kapitalis.

Karya dari Adam Smith yang terkenal adalah An Inquiry into Inquty into the Nature and Cause of the Wealth of Nations (The Wealth of Nations). Buku tersebut merupakan buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa. Adam Smith merupakan salah satu pelopor sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi ini sendiri muncul di abad 18, tepatrnya di Eropa Barat dan mulai terkenal di abad 19.

Poin utama dari the Wealth of Nations adalah pasar bebas. Adam Smith percaya jika motif manusia seringkali egois dan tamak maka kompetisi dalam pasar bebas akan bertujuan menguntungkan masyarakat seluruhnya, dengan memaksa harga tetap rendah, di mana tetap membangun dalam insentif untuk bermacam barang dan jasa. 

Berikut adalah kutipan paling terkenal dan kerap diambil oleh para ekonom dalam The Wealth of Nations:

“Bukankah kebaikan dari tukang daging, tukang bir, atau tukang roti yang kita harapkan pada makan malam kita, tetapi kepedulian mereka pada kepentingan mereka sendiri. Kita mengenalkan diri kita, tidak pada kemanusiaan mereka tetapi pada kecintaan mereka pada diri sendiri, dan tidak pernah bicara pada mereka atas keperluan kita, tetapi untuk keuntungan mereka.

Sebagimana setiap individu, maka, mengusahakan sebanyak apa yang ia bisa menggunakan modal miliknya dalam mendukung industri dalam negeri dan juga untuk mengarahkan industri yang produksinya mungkin merupakan nilai terbesar, setiap individu buruh yang diperlukan untuk memasang nilai yang tepat dari masyarakat sebaik yang ia bisa. Dia secara umum tidak mempromosikannya untuk kepentingan publik, tidak juga tahu sebanyak apa dia mempromosikannya. Dengan memprefensikan dukungan dari dalam negeri ke industri asing, dia bertujuan hanya untuk kemanan dirinya sendiri, dan dengan mengarahkan industri tersebut dalam sikap di mana produksinya merupakan nilai terbesarnya, dia hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri, dan dia dalam hal ini seperti kasus lainnya, dipandu oleh tangan-tangan tak terlihat untuk menghasilkan sebuah akhir di mana akhir tersebut bukan bagian dari tujuannya. Tidak juga selalu merupakan yang lebih buruk bagi masyarakat yang mana hal tersebut bukan nerupakan bagian darinya. Dengan mengejar keuntungan dirinya sendiri secara berkala dia secara teratur menghasilkan apa yang berakibat dari masyarakat lebih dari yang ia perkirakan akan hasilnya. Saya tidak pernah bertemu banyak kebaikan yang terjadi denga siapa pun yang berdagang dalam barang publik. Ini merupakan emosi yang kuat, sebenarnya, tidak begitu umum di antara para pedagang, dan sangat sedikit kata-kata yang bisa digunakan untuk meyakinkan tidak melakukan hal tersebut pada mereka.”

Teori ekonomi Adam Smith berkembang pada abad 18 di Eropa. Ia percaya akan hak untuk mempengaruhi kemajuan dari ekonomi diri sendiri secara bebas tanpa perlu dikendalikan oleh perkumpulan ataupu negara. Teori ini kemudian mengubah mayorits di kawasan Eropa menjadi daerah perdagangan bebas dan membuat adanya pengusaha.

Sikap krisi Adam Smith bermula sat ia masuk ke Universitas Glasgow pada usia 13 tahun. Dia belajar moral dari Francis Hutcheson. Di sini, Adam Smith mulai mengembangkan keinginan kuatnya akan kebebasan, akal sehat, dan kebebasan berpendapat. Tahun 1740, dia dianugerahi Snell Exhibition dan memasuki Kampus Balliol,Oxford hingga tahun 1746.

Tahun 1748, Adam Smith mulai mengajar kuliah umum di Edinburgh di bawah bimbingan Lord Kames. Sebagian dari perkuliahannya menyinggung retorika dan belles-letters, tetapi kemudian berkembang pada tema ‘Kemajuan dari Kesejahteraan’. Kemudian pada tahun 1750, dia bertemu dengan filsuf David Hume, yang usianya lebih tua 10 tahun. Dalam karya, mereka memiliki kesamaan opini mencakup filosofi, sejarah, politik, ekonomi, dan agama. Karena itulah, mereka kerap dianggap junior dan senior.
(Doc. Istimewa)
Di tahun 1971, karis Adam Smith secara akademisi mulai meningkat. Ia ditunjuk sebagai ketua dewan logika di Universitas Glasgow. Lalu setahun kemudian dipindahkan ke dewan filosofi moral Glasgwo. Tahun 1759 dia menerbitkan teori dari sentimen moral dan memasukannya sebagian kuliahnya saat di Glasgwo. Di sini lah ia dapat titel Doktor di tahun 1962.

Pada tahun 1764-1766, Adam Smith mulai mengurangi aktivitas mengajar dan memilih berkelana menemui para tokoh-tokoh intelektual seperti Turgor, Jean D’Alembert, Andre Morrelet, Helvetius, dan Frangois Quesnay. Tahun 1778, dia menjadi salah satu pendiri Royal Society of Edinburgh dan mendapat posisi kehormatan lord Rektor Universitas Glasgow antara tahun 1787 sampai 1789.

Di masa tuannya, Adam Smith mulai sakit-sakitan. Ia meninggal pada 17 Juli 1790. Kemudian mayatnya dimakamkan di Canogatw Krikyard. Ia meninggalkan beberapa karya, di antaranya yakni The Theory of Moral Sentiments (1759), An Inquiry Into the Nature and Cause of the Wealth of Nation (1776), dan Essays on Philosophical Subject (diterbitkan setelah 1759), Lectures in Jurisprudence (diterbitkan setelah 1976). 

Sumber:
Syahputra, Arbi. 2018. 100 Tokoh Modern Paling Berpengaruh di Dunia. Yokyakarta: CV. Solusi Distribusi.

***
Editor:
Back To Top