Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Percakapan Seokarno dan Seorang Petani Bernama Marhaen

Bung Karno melihat patung Marhaen. (Dokumen: Arsip Nasional)
Percakapan ini terjadi sekitar tahun 1926. Saat itu, Seokarno yang sedang berkeliling menggunakan sepedanya berhenti dan bertemu dengan seorang petani di sebuah persawahan di selatan Kota Bandung, Jawa Barat. Petani yang kala itu sedang menggarap sawahnya diajak berbincang oleh Seokarno.

“Siapakah pemilik tanah dari yang kau harap ini?”
“Saya juragan.”
“Apakah engkau memiliki tanah ini bersama-sama dengan orang lain?”
“O, tidak gan.”
“Apakah kau membeli tanah ini?”
“Tidak, itu turun temurun diwariskan dari orang tua kepada anaknya.”
“Bagaimana dengan sekopmu? Sekop ini kecil, tapi apakah milikmu juga?”
“Ya, gan.”
“Dan cangkul itu?”
“Ya, gan.”
“Bajak?”
“Milik saya, gan”
“Lalu hasilnya untuk siapa?”
“Untuk saya, gan.”
“Apakah hasilnya cukup untuk kebutuhanmu?”

Petani itu lalu mengangkat bahu mengisyaratkan kekecewaannya bahwa hasilnya belum sesuai kebutuhan.

“Bagaimana mana mungkin sawah yang begini sempit bisa cukup untuk memenuhi kebutuhan seorang istri dan empat anak?”
“Apakah kau menjual sebagian hasilnya itu?”
“Hasilnya sekedar cukup untuk makan kami. Tidak ada lebihnya untuk dijual.”
“Apakah kau memperkerjakan orang lain?”
“Tidak, gan. Saya tidak mampu membayarnya.”
“Apakah engkau pernah kerja pada orang lain?”
“Tidak, gan. Saya harus membanting tulang, tetapi jerih payah saya semua untuk diri saya.”

Lalu Soekarno menunjuk sebuah gubuk kecil dan kembali mengutarakan pertanyaan kepada petani itu.

“Siapa pemilik rumah itu?”
“Itu rumah saya gan. Kecil, tetapi milik saya sendiri.”
“Jadi kalau begitu, semua ini milikmu?”
“Ya, gan.”

Sebelum mengakhiri perbincangan, soekarno menanyakan nama dari petani itu dan ia menyebutkan Marhaen.


Sumber:
Adams, Cindy. 2014. Bung Karno; Penyambung Lidah Rakyat (Edisi Revisi, Cetakan Keempat). Jakarta: Yayasan Bung Karno.
Editor:

Situs sejarah Cot Kuprah di Aceh Utara Butuh Pemugaran

Situs sejarah Cot Kuprah di Aceh Utara Butuh Pemugaran

@Dok. Istimewa
Lhoksukon - Muspika Nibong bersama puluhan mahasiswa UIN Ar-Raniry mengikuti meuseuraya, di sejumlah kompleks makam peninggalan era Samudra Pasai di Kecamatan Nibong, Aceh Utara, Minggu (30/9).

Meuseuraya atau gotong royong itu untuk membersihkan kompleks makam. Dan mengangkat nisan-nisan bersejarah yang sudah terbenam untuk ditata kembali yang ada di Gampong Bomban, Alue Ngom dan Maddi, Kecamatan Nibong.

Dalam kesempatan tersebut, turut hadir dari Muspika Nibong Camat Fauzi Saputra, Ketua MPU Tgk. Warwan, dan Ketua MAA Tgk. Zaibuddin.

Meuseuraya tersebut dipandu oleh tim Centre Information for Samudra Pasai Heritage (Cisah), juga melibatkan Pelajar Peduli Sejarah Aceh (Pelisa), Pramuka Kwartir Ranting Tanah Luas, tokoh adat Nibong, dan perwakilan Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Aceh Utara

“Dari UIN Ar-Raniry hadir 68 mahasiswa dan dosen,” kata Ketua Cisah, Abdul Hamid alias Abel Pasai.

Ia mengapresiasi para mahasiswa yang datang dari Banda Aceh untuk meuseuraya di kawasan Kerajaan Islam Samudra Pasai. Sementara itu Geuchik Gampong Bumban, Alamsyah kepada kanalaceh.com mengatakan, pihaknya akan menghibahkan tanah miliknya seluas 15x 15 M yang berada di lokasi situs Sejarah tersebut.

Alamsyah juga berterimakasih kepada lembaga Cisah dan Pelisa yang telah mengunjungi Citus Sejarah Tgk Cot Kuprah yang berada di kebunnya. Harapannya, agar kedepan situs itu bisa dilestarikan dan dijaga sebaik mungkin.

Untuk bisa tiba kelokasi situs sejarah tersebut, harus berjalan menempuh area gunung Cot Kuprah dengan berjalan kaki.

Untuk itu, Alamsyah mengharapkan agar lokasi situs sejarah itu di bangun infrastruktur dan pemugaran oleh Pemerintah Daerah.

“Kami harap Pemkab Aceh Utara untuk membantu pembangunan Infrastruktur dan pemugaran, selain bisa kita kembangkan untuk objek wisata Sejarah,” ucapnya.

Sumber:

Jejak Peadaban Islam di Selatan Italia

Jejak Peadaban Islam di Selatan Italia

Islam di Sisilia @Dok. Istimewa
Pada abad ke- 9 hingga 11 M, peradaban Islam pernah menguasai Italia Selatan.

Italia menjadi rumah bagi sekitar 850 ribu Muslim. Islam memiliki sejarah yang panjang dengan Italia. 

Betapa tidak. Pada abad ke-9 hingga 11 M, peradaban Islam pernah menguasai bagian selatan negara yang kini memiliki penduduk terbesar keenam di Eropa dan terpadat ke-23 di dunia itu.

Jejak peradaban Islam di Italia bagian selatan telah dimulai ketika Sicilia jatuh dalam genggaman kaum Muslim. Peradaban Islam mulai bersemi di Sicilia sejak 15 Juli 827 M. Ketika itu, pasukan tentara Dinasti Aghlabid atau Aghlabiyah di bawah kekuasaan Ziyadat Allah I berhasil menaklukkan kekuasaan Bizantium.

Dinasti Aghlabid merupakan kerajaan Islam yang berada dalam lindungan Kekhalifahan Abbasiyah. Dinasti itu menguasai Ifriqiyah meliputi Aljazair, Tunisia, dan Tripoli. Dinasti yang berkuasa dari tahun 800 M hingga 909 M itu berpusat di Tunisia.

Diperkuat 10 ribu pasukan infanteri, 700 pasukan berkuda, serta 100 armada kapal, pasukan Muslim di bawah komando Asad Ibnu Al-Furat (70 tahun) berhasil mengandaskan kekuatan Bizantium dalam pertempuran di dekat Mazara. Secara resmi, Kota Palermo--ibu kota Sicilia--ditaklukkan umat Islam pada 831 M.

Sejak berada dalam kekuasaan Islam, Sicilia menjelma menjadi salah satu pusat peradaban di Eropa, setelah Kordoba. Bangunan masjid yang tersebar di seluruh kawasan Sicilia tak hanya menjadi tempat beribadah semata. Masjid-masjid itu juga berfungsi sebagai sekolah--tempat berse- mainya benih peradaban dan ilmu pengetahuan.

Di bawah kekuasaan Islam, Sicilia memiliki universitas Islam terkemuka. Sekolah-sekolah di wilayah itu dilengkapi dengan asrama siswa dan mahasiswa. Tak heran, bila begitu banyak remaja dan anak muda dari berbagai penjuru Eropa menimba ilmu di sekolah dan universitas Islam di Sicilia.

`'Palermo adalah sebuah kepulauan metropolis yang mengombi- nasikan kekayaan dan kemuliaan. Sebuah kota kuno yang elegan,''

papar Ibnu Jubair, seorang penjelajah Muslim, memberi sebuah kesaksian tentang kemajuan yang berhasil dicapai penguasa Muslim di Sicilia. Periode kekuasaan Islam di Sicilia merupakan tahap awal revolusi perdagangan di abad pertengahan.

Pada era itulah masyarakat Sicilia merasakan kemakmuran dalam pertumbuhan ekonomi yang begitu pesat. Akhir abad ke-10 M, sejarawan bernama Udovitch menje- laskan betapa Sicilia telah menjelma menjadi pusat perdagangan di dunia Mediterania.

Umat Islam menguasai peradaban di Sicilia hingga 1061 M. Perdaban Islam di wilayah itu dikembangkan oleh sejumlah dinasti Islam, antara lain Dinasti Aghlabid atau Aghlabiyah (827 M909 M). Setelah itu, kekuasaan Islam di wilayah itu jatuh di tangan Dinasti Fatimiyah, sebuah kekhalifahan Islam bermazhab Syiah yang berpusat di Mesir.

Kekuasaan atas Sicilia terlepas pada abad ke-11 M, ketika wilayah itu dikuasai oleh Emirat Sicilia. Pasukan Emir Abu Al- Qasim (964 M982 M) terus digempur Bizantium. Kekuasaan Islam pun meredup seiring perebutan kekuasaan di tubuh umat Islam.

Pada 1061 M, Sicilia pun lepas dari tangan umat Islam. Kehadiran peradaban Islam di Sicilia merupakan berkah bagi peradaban Barat. Sebab, dari wilayah itulah Barat men- transfer pengetahuannya dari dunia Islam.

Sumber:

Bapak Pelopor Kapitalisme

Adam Smith

Bapak Pelopor Kapitalisme

(Doc. Istimewa)
John Adam Smith atau biasa dikenal dengan Adam Smith adalah seoran ekonomi pelopor kapitalisme. Ia lahir di Kirkcaldy, Skotlandia pada 6 Juni 1723 dan meninggal di Edinburgh, Skotlandia, 17 Juli 1970 pada umur 63 tahun.

Dalam sejarah perjalan hidupnya, dia kemudian dikenal sebagai seorang filsuf yang dikenal sebagai pelopor ilmu ekonomi modern dan dari situlah Adam Smith telah mendapatkan sebuah gelar sebagai Bapak Ekonomi Kapitalis.

Karya dari Adam Smith yang terkenal adalah An Inquiry into Inquty into the Nature and Cause of the Wealth of Nations (The Wealth of Nations). Buku tersebut merupakan buku pertama yang menggambarkan sejarah perkembangan industri dan perdagangan di Eropa. Adam Smith merupakan salah satu pelopor sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ekonomi ini sendiri muncul di abad 18, tepatrnya di Eropa Barat dan mulai terkenal di abad 19.

Poin utama dari the Wealth of Nations adalah pasar bebas. Adam Smith percaya jika motif manusia seringkali egois dan tamak maka kompetisi dalam pasar bebas akan bertujuan menguntungkan masyarakat seluruhnya, dengan memaksa harga tetap rendah, di mana tetap membangun dalam insentif untuk bermacam barang dan jasa. 

Berikut adalah kutipan paling terkenal dan kerap diambil oleh para ekonom dalam The Wealth of Nations:

“Bukankah kebaikan dari tukang daging, tukang bir, atau tukang roti yang kita harapkan pada makan malam kita, tetapi kepedulian mereka pada kepentingan mereka sendiri. Kita mengenalkan diri kita, tidak pada kemanusiaan mereka tetapi pada kecintaan mereka pada diri sendiri, dan tidak pernah bicara pada mereka atas keperluan kita, tetapi untuk keuntungan mereka.

Sebagimana setiap individu, maka, mengusahakan sebanyak apa yang ia bisa menggunakan modal miliknya dalam mendukung industri dalam negeri dan juga untuk mengarahkan industri yang produksinya mungkin merupakan nilai terbesar, setiap individu buruh yang diperlukan untuk memasang nilai yang tepat dari masyarakat sebaik yang ia bisa. Dia secara umum tidak mempromosikannya untuk kepentingan publik, tidak juga tahu sebanyak apa dia mempromosikannya. Dengan memprefensikan dukungan dari dalam negeri ke industri asing, dia bertujuan hanya untuk kemanan dirinya sendiri, dan dengan mengarahkan industri tersebut dalam sikap di mana produksinya merupakan nilai terbesarnya, dia hanya memikirkan keuntungan dirinya sendiri, dan dia dalam hal ini seperti kasus lainnya, dipandu oleh tangan-tangan tak terlihat untuk menghasilkan sebuah akhir di mana akhir tersebut bukan bagian dari tujuannya. Tidak juga selalu merupakan yang lebih buruk bagi masyarakat yang mana hal tersebut bukan nerupakan bagian darinya. Dengan mengejar keuntungan dirinya sendiri secara berkala dia secara teratur menghasilkan apa yang berakibat dari masyarakat lebih dari yang ia perkirakan akan hasilnya. Saya tidak pernah bertemu banyak kebaikan yang terjadi denga siapa pun yang berdagang dalam barang publik. Ini merupakan emosi yang kuat, sebenarnya, tidak begitu umum di antara para pedagang, dan sangat sedikit kata-kata yang bisa digunakan untuk meyakinkan tidak melakukan hal tersebut pada mereka.”

Teori ekonomi Adam Smith berkembang pada abad 18 di Eropa. Ia percaya akan hak untuk mempengaruhi kemajuan dari ekonomi diri sendiri secara bebas tanpa perlu dikendalikan oleh perkumpulan ataupu negara. Teori ini kemudian mengubah mayorits di kawasan Eropa menjadi daerah perdagangan bebas dan membuat adanya pengusaha.

Sikap krisi Adam Smith bermula sat ia masuk ke Universitas Glasgow pada usia 13 tahun. Dia belajar moral dari Francis Hutcheson. Di sini, Adam Smith mulai mengembangkan keinginan kuatnya akan kebebasan, akal sehat, dan kebebasan berpendapat. Tahun 1740, dia dianugerahi Snell Exhibition dan memasuki Kampus Balliol,Oxford hingga tahun 1746.

Tahun 1748, Adam Smith mulai mengajar kuliah umum di Edinburgh di bawah bimbingan Lord Kames. Sebagian dari perkuliahannya menyinggung retorika dan belles-letters, tetapi kemudian berkembang pada tema ‘Kemajuan dari Kesejahteraan’. Kemudian pada tahun 1750, dia bertemu dengan filsuf David Hume, yang usianya lebih tua 10 tahun. Dalam karya, mereka memiliki kesamaan opini mencakup filosofi, sejarah, politik, ekonomi, dan agama. Karena itulah, mereka kerap dianggap junior dan senior.
(Doc. Istimewa)
Di tahun 1971, karis Adam Smith secara akademisi mulai meningkat. Ia ditunjuk sebagai ketua dewan logika di Universitas Glasgow. Lalu setahun kemudian dipindahkan ke dewan filosofi moral Glasgwo. Tahun 1759 dia menerbitkan teori dari sentimen moral dan memasukannya sebagian kuliahnya saat di Glasgwo. Di sini lah ia dapat titel Doktor di tahun 1962.

Pada tahun 1764-1766, Adam Smith mulai mengurangi aktivitas mengajar dan memilih berkelana menemui para tokoh-tokoh intelektual seperti Turgor, Jean D’Alembert, Andre Morrelet, Helvetius, dan Frangois Quesnay. Tahun 1778, dia menjadi salah satu pendiri Royal Society of Edinburgh dan mendapat posisi kehormatan lord Rektor Universitas Glasgow antara tahun 1787 sampai 1789.

Di masa tuannya, Adam Smith mulai sakit-sakitan. Ia meninggal pada 17 Juli 1790. Kemudian mayatnya dimakamkan di Canogatw Krikyard. Ia meninggalkan beberapa karya, di antaranya yakni The Theory of Moral Sentiments (1759), An Inquiry Into the Nature and Cause of the Wealth of Nation (1776), dan Essays on Philosophical Subject (diterbitkan setelah 1759), Lectures in Jurisprudence (diterbitkan setelah 1976). 

Sumber:
Syahputra, Arbi. 2018. 100 Tokoh Modern Paling Berpengaruh di Dunia. Yokyakarta: CV. Solusi Distribusi.

***
Editor:

Pemimpin Penolak Perbudakan

Abraham Lincoln

Pemimpin Penolak Perbudakan

Abraham Lincoln. (Doc. Istimewa)
Abraham Lincoln adalah Presiden Amerika Serikat ke-16. Ia lahir di Hardin Country, Kentucky, pada 12 Februari 1809 dan meninggal di Washington DC tanggal 15 April 1865. Dalam karirnya ia dikenal sebagai tokoh yang mempertahankan kesatuan bangsa dengan menghapus perbudakan di Amerika Serikat.

Lincoln kecil hanyalah anak seorang tukang kayu. Ibunya meninggal saat ia masih kecil. Ketika sang ayah menikah lagi, Lincoln pun diasuh oleh ibu tirinya hingga dewasa. Jiwa merakyat Lincoln muncul di masa remaja, kala itu pada tahun 1828, ia menyewa kapal angkut untuk membawa muatan menuju New Orleans. Di situlah ia pertama kali menyaksikan perbudakan, ia kemudian berjanji kepada dirinya bahwa kelak ia akan menghapus praktik perbudakan tersebut.

Meski tidak mengenyam pendidikan resmi, karena otodidak, Abraham Lincoln yang gemar membaca pada akhirnya berhasil menjadi seorang pengacara. Di awal karirnya, ia sempat berkenalan dan menjalin hubungan dengan seorang wanita bernama Anne Rutledge. Dari ayah Anne Rutledge lah yang menyarankan Lincoln untuk terjun ke dunia politik.

Gayung bersambut, tidak butuh waktu lama, pada tahun 1834, Abraham Lincoln terpilih menjadi anggota DPRD untuk wilayah Illinois. Kemudian terpilih kemabali pada tahun 1838 dan tahun 1840. Pada masa ini, ia bertemu dengan Mary Owens dan menikahinya di tahun 1841. Setahun pernikahan mereka, Lincoln membuka biro hukum dengan seorang temannya bernama William H Herndon.

Karir Abraham Lincoln sempat terhenti karena terpilih sebagai anggota kongres di tahun 1846. Namun karena ia mengusulkan undang-undang untuk mengakhiri perbudakan di distik Columbia, maka keanggotaannya tidak diperpanjang. Lincoln kecewa, ia menghentikan kegiatan politiknya untuk beberapa waktu dan kembali fokus pada biro hukumnya.

Di tahun 1854, Lincoln kembali ke dunia politik karena isu perbudakan di negeri kembali menghangat. Kala itu masyarakat Amerika terbelah menjadi dua, wilayah utara menentang perbudakan sedangkan wilayah selatan mendukung perbudakan. Ia pun berjuang untuk merebut kursi dalam senat AS, namun dalam putaran pertama ia kalah bersaing dengan Stephen Douglas yang mendukung perbudakan.

Abraham Lincoln tidak menyerah, nyatanya pada Bulan Mei 1860, ia terpilih sebagai calon presiden dari Partai Republik. Dan setelah pemilihan, pada 4 Maret 1861, ia resmi memenangkan Pemilu dan terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat ke-16. Namun sayangnya, ini adalah awal dari perang sipil di Amerika Serikat karena empat hari setelah Abraham Lincoln menjadi presiden, negara bagian selatan itu keluar dari Federasi Amerika Serikat. Perpecahan tersebut, kemudian memuncak hingga menyebabkan terjadinya perang saudara di Amerika Serikat dari tahun 1861-1865.

Pada pertengahan perang saudara, Presiden Abraham Lincoln mengeluarkan Proklamasi Pembebasan dengan menyatakan semua budak belia di negara-negara bagian ataupun daerah-daerah negara-negara bagian yang melawan Amerika Serikat akan bebas mulai 1 Januari 1863. Proklamasi itu mencetuskan semangat semua orang yang memperjuangkan kebebasan dan menjadi pendorong ke arah penghapusan perbudakan di seluruh Amerika Serikat.

Di tengah kemenangan militer Amerika Serikat (Utara) pada akhir perang saudara, Abraham Lincoln terpilih kembali pada tahun 1864 menjadi presiden. Namun, setahun kemudian tepatnya 18 April 1865, saat Amerika Serikat sudah memasuki masa damai, Presiden Abraham Lincoln ditembak kala menyaksikan teater Ford, Washington. Ia pun segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapat perawatan, akan tetapi keesokan harinya nyawanya tidak bisa diselamatkan.

Sumber:
Syahputra, Arbi. 2018. 100 Tokoh Modern Paling Berpengaruh di Dunia. Yokyakarta: CV. Solusi Distribusi.

***
Editor: Menulis Sejarah

Sejarah Perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Sejarah Perumusan
Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia

Soekarno yang didampingi Mohd. Hatta saat membacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. (Doc. Istimewa).
Indonesia merupakan salah satu negara di dunia yang merdeka melalui perjuangan melawan penjajah. Kemerdekaan negara ini untuk pertama kali diumumkan pada, Jumat, 17 Agustus 1945, di Jakarta, setelah dibacakan teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia oleh Soekarno. Sejak saat itu, Indonesia resmi berdiri sebagi sebuah negara.

Namun apakah teman-teman tahu, apa isi dari teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu? Bagaimana proses pembuatan teks tersebut?

Berikut ini akan diulas secara singkat sejarah dari dokumen yang sangat berharga bagi Bangsa Indonesia tersebut.

Penulisan dan perumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dilakukan pada, Kamis, 16 Agustus 1945, di sebuah rumah di Jalan Imam Bonjol No 1, Jakarta, milik seorang Perwira Angkatan Laut Jepang, bernama Laksamana Muda Tadashi Maeda. Beberapa tokoh terlibat langsung dalam perumusan maupun penulisan, di antaranya Soekarno, Hatta, Ahmad Subardjo. Meskipun pada saat itu juga hadir nama-nama tokoh, seperti Mr Teukoe Moehammad Hasan, Ki Hadjar Dewantara, R. Otto Iskandardinata, Sayuti Melik, Soekarni, BM Diah, dan beberapa tokoh lainnya.

Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hanya terdiri dari beberapa kalimat. Setiap kalimat tersebut, lahir dari pemikiran tokoh-tokoh yang terlibat langsung dalam perumusan teks bersejarah itu.

Ahmad Subardjo, berperan mengusulkan konsep kalimat pertama yang berbunyi; “Kami rakyat Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan kami”, kemudian berubah menjadi “Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia”.

Soekarno, menuliskan konsep kalimat kedua yang berbunyi; “Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan, dan lain-lain akan diselenggarakan dengan cara yang secermat-cermatnya serta dalam tempo yang sesingkat-singkatnya”.

Mohammad Hatta berperan menggabungkan kedua kalimat di atas dan disempurnakan sehingga berbunyi seperti teks proklamasi yang kita miliki.

Konsep dari rumusan Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia itu telah ditulis oleh Soekarno dalam selembar kertas dengan menggunakan pena. (Terlihat dari hasil teks yang kini masih tersimpan di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jakarta).

Berikut Teks Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia hasil dari tulisan tangan Soekarno:
Teks proklamasi tulisan tangan dari Soekarno. (Doc. Istimewa)

***
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan kemerdekaan Indonesia. Hal-2 yang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara setjermat-tjermatnya dan dalam tempoh jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, 17-8-05
Wakil-wakil bangsa Indonesia
***

Teks konsep yang sudah ditulis, kemudian dibacakan oleh Soekarno di hadapan para pejuang lainnya yang hadir pada saat itu di ruang rapat yang digelar. Para hadirin kemudian menyetujui secara bulat rumusan dari pada isi teks tersebut. Selanjutnya, teks itu diserahkan Soekarno kepada Sayuti Melik untuk diketik ulang menggunakan mesin tik.

Sayuti Melik, ditemani BM Diah, mengetik naskah Proklamasi di ruangan bawah tangga dekat dapur. Dia mengetik naskah Proklamasi dengan beberapa perubahan kata: “tempoh” menjadi “tempo”, kalimat “wakil-wakil bangsa Indonesia” diganti “Atas nama Bangsa Indonesia” dengan menambahkan nama “Soekarno-Hatta”, serta “Djakarta, 17-8-05” menjadi “Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05.

“Saya berani mengubah ejaan itu adalah karena saya dulu pernah sekolah guru, jadi kalau soal ejaan bahasa Indonesia saya merasa lebih mengetahui daripada Bung Karno,” kata Sayuti Melik.

Teks Proklamasi Indonesia hasil dari revisi Sayuti Malik seteleh diketik ulang menggunakan mesin tik, yakni sebagai berikut:
Teks proklamasi yang telah diketik ulang oleh Sayuti Melik. (Doc. Istimewa)

***
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menjatakan Kemerdekaan Indonesia. Hal-hal jang mengenai pemindahan kekoeasaan d.l.l., diselenggarakan dengan tjara seksama dan dalam tempo jang sesingkat-singkatnja.
Djakarta, hari 17 boelan 8 tahoen 05 
Atas nama bangsa Indonesia Soekarno/Hatta 
***


Teks yang sudah diketik oleh Sayuti Melik itulah nantinya digunakan Seokarno pada saat pembacaan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945. Sedangkan konsep tulisan tangan Sukarno dia tinggalkan begitu saja di dekat mesin tik. Setelah naskah Proklamasi yang diketik itu dibacakan di depan rapat dan disetujui, barulah Sukarno dan Hatta membubuhkan tanda tangannya.

“Karena tergesa-gesa tadi maka tidak terpikirkan perlunya mengetik rangkap untuk arsip. Jadi hanya saya buat satu lembar saja,” kata Sayuti Melik.

“Dengan demikian naskah yang resmi adalah naskah yang saya ketik yang kemudian dibacakan pada 17 Agustus 1945 oleh Sukarno di Pegangsaan Timur 56 Jakarta pukul 10.00 pagi. Sedangkan naskah yang masih berupa tulisan tangan Sukarno itu sebetulnya baru konsep.”

Berdasarkan sumber dari tempo.co dikatakan, teks proklamasi yang telah ditulis Soekarno kemudian ditinggalkan atau dibuang begitu saja oleh Sayuti Melik, selaku pengetik naskah. Hal itu juga diakui sendiri oleh Sayuti.

Teks proklamasi 17 Agustus 1945 asli yang ditulis Presiden Sukarno sempat dibuang pengetik naskah tersebut, Sayuti Melik. Namun, teks tersebut diselamatkan wartawan senior Buhanuddin Mohammad Diah atau BM Diah. (Source: Tempo.co)

“Setelah konsep saya ketik, saya tinggalkan begitu saja di dekat mesin ketik dan ternyata tidak saya temui lagi. Saya beranggapan bahwa konsep yang ditulis tangan oleh Bung Karno itu telah hilang, mungkin sudah sampai di tempat sampah dan musnah,” kata Sayuti. “Tetapi ternyata anggapan saya itu salah. Saudara BM Diah ternyata memberikan perhatian terhadap konsep naskah tulisan Bung Karno tadi, mungkin beliau telah memikirkan untuk keperluan dokumentasi maka konsep itu diselamatkan.”

Naskah teks proklamasi tulisan Soekarno yang asli baru diserahkan oleh Buhanuddin Mohammad Diah kepada Presiden Republik Indonesia, saat itu, Soeharto, pada tahun 1993.

Tragedi Malaria (Malapetaka lima Belas Januari)

Tragedi Malaria
(Malapetaka lima Belas Januari)

Situasi saat terjadinya peristiwa Malapetaka Lima Belas Januari (Malaria). (Doc. Google).
Malapetaka Lima Belas Januari (Malaria) merupakan salah satu tragedi yang telah menorehkan catatan hitam sejarah dalam perjalanan Bangsa Indonesia, terutama bagi pemerintahan masa Orde Baru. Bagaimana tidak, peristiwa yang terjadi tepat tanggal 15 Januari 1974 itu, mengakibatkan beberapa kerusakan gedung perkantoran dan pusat belanja di Jakarta. Bahkan dikabarkan, 700-an orang sempat ditangkap, 45 ditahan selama berbulan-bulan, 3 orang diseret ke pengadilan, ratusan orang luka-luka, dan 11 orang dinyatakan meninggal dunia dari kejadian tersebut. 

Berdasarkan beberapa sumber yang Menulis Sejarah himpun, adapun latar belakang dari tragedi tersebut, diawali dari suatu gerakan mahasiswa yang merasa tidak puas terhadap kebijakan pemerintah terkait kerja sama dengan pihak asing untuk pembangunan nasional. Mereka menganggap, kebijakan yang diambil oleh pemerintahan pada saat itu tidak mengarah kepada pembangunan dan mementingkan rakyat. Rezim Orde Baru yang saat itu memimpin dianggap terlalu liberal dan membuka pintu terlalu lebar bagi investor asing. Oleh karena itu mereka menilai, bahwa kerja sama yang dilakukan dengan pihak asing akan semakin memperburuk kondisi ekonomi rakyat.

Jauh sebelum meletusnya peristiwa Malaria, mahasiswa dari berbagai kampus dan masyarakat sipil sempat melakukan demonstrasi menolak kedatangan Ketua Inter-Governmental Group on Indonesia (IGGI) lembaga pemodal asing bentukan Amerika Serikat, Jan P Pronk, di Jakarta pada Minggu, 11 November 1973. Para mahasiswa melakukan aksi di Bandara Kemayoran sambil membawa gambar-gambar foto kritikan penolakan kehadiran Jan P Pronk. Bahkan, salah satu mahasiswi yang mewakili massa aksi mencoba mendekat kepada Jan P Pronk dan kemudian memberikan karangan bunga serta selembar surat yang isinya memorandum penolakan kedatangannya.

Beberapa bulan kemudian, aksi demonstrasi kembali terjadi. Kali ini saat akan menyambut kedatangan Perdana Menteri (PM) Jepang, Tanaka Kakuei. Rencananya massa mau menyambut kedatangan PM Jepang itu di Bandara Halim Perdanakusuma, akan tetapi aparat keamanan sudah memblokade bandara ini sehingga rencana tersebut gagal. Massa kemudian mengalihkan aksinya di sekitar Jakarta Pusat. Aksi ini bisa dikatakan merupakan titik awal dari peristiwa Malaria.

Berbarengan dengan itu kelompok massa dari mahasiswa sedang melakukan diskusi yang berpusat di salah satu universitas tetapi dikagetkan oleh info yang menyebutkan di kawasan pusat Jakarta terjadi kerusuhan. Massa dari mahasiswa banyak yang bertanya bagaimana kejadian anarkis tersebut bisa terjadi. 

Kerusuhan itu sendiri meliputi pengerusakan beberapa fasilitas di umum dan bangunan toko di kawasan Ibukota seperti pertokoan Senen, Jakarta Pusat, dan Roxy, Jakarta Barat. Selama dua hari daerah sekitar ibu kota diselimuti asap. Pembakaran dan Penjarahan menjadi pemandangan yang sangat mengkhawatirkan saat itu (Sumber: Merdeka.com).

Wilayah pertokoan Senen yang dibangun dengan anggaran Rp 2,7 miliar pada saat itu, menjadi titik perhatian, sebab pertokoan itu ludes dilalap si jago merah. Selain itu, Menteri Pertahanan dan Keamanan masa itu, Maraden Panggabean mengatakan, peristiwa kerusuhan yang terjadi selama dua hari tersebut tercatat kerugian materi yang diakibatkan dalam kejadian ini cukup banyak.

"Sebanyak 807 mobil dan 187 sepeda motor rusak atau dibakar, 144 buah gedung rusak atau terbakar (termasuk pabrik Coca-cola), dan 160 kilogram emas hilang dari sejumlah toko perhiasan," kata Maraden dalam rapat sidang pleno DPR pada 21 Januari 1974 (Sumber: Merdeka.com).

Bukan hanya kerugian besar materi yang dialami, peristiwa dua hari tersebut mengakibatkan korban jiwa selama kerusuhan, yakni 11 orang meninggal, 177 mengalami luka berat, 120 mengalami luka ringan, dan 775 orang ditangkap.

Gubernur Jakarta saat itu, Ali Sadikin juga membeberkan kerusakan yang terjadi akibat pembakaran saat kerusuhan massa. Angkanya berbeda dengan yang dilansir Maraden Panggabean.

"522 buah mobil dirusak dengan 269 di antaranya dibakar, 137 buah motor dirusak (94 buah dibakar), 5 buah bangunan dibakar ludes, termasuk 2 blok proyek pasar Senen bertingkat 4. Serta gedung milik PT Astra di Jalan Sudirman, dan 113 buah bangunan lainnya dirusak," kata Ali (Sumber: Merdeka.com).

Kalangan yang "sekadar" ditahan pada saat itu yakni Sarbini Sumawinata, Tawang Alun, Soedjatmoko, Buyung Nasution, Adnan, Marsillam Simanjuntak, Dorodjatun Kuntjoro-Jakti, Mochtar Lubis, dan sejumlah tokoh lain. Tiga orang yang diseret ke pengadilan, yakni Hariman Siregar (Ketua Dewan Mahasiswa Universitas Indonesia (UI) saat itu), Aini Chalid, dan Sjahrir. 
Hariman Siregar. (Doc. Google)
Hariman Siregar bersama rekan-rekan mahasiswa lainnya dituding menjadi otak pelaku kerusuhan tersebut, akan tetapi dia menolak jika disebut sebagai penyebab dalam kerusuhan tersebut. Menurutnya, insiden kerusuhan itu sudah di luar kendali mahasiswa dan bisa jadi di baliknya ada pihak yang sengaja membuat situasi waktu itu semakin tidak kondusif.

"Berbagai aksi pembakaran dan pengrusakan oleh massa itu sudah di luar kendali mahasiswa. Begitu sore hari ada kebakaran di Pasar Senen, saya sudah berpikir pasti ada yang menunggangi aksi mahasiswa," kata Hariman kepada merdeka.com, Kamis (9/1) pekan lalu.

Hariman sendiri menyebut Malari sebagai puncak dari gerakan kritis terhadap konsep pembangunan yang dilakukan pemerintah Orde Baru saat itu.

Sampai saat ini, peristiwa Malaria masih menjadi tanda tanya, khususnya mengenai siapa dalang di balik kerusuhan tersebut. Sedangkan Hariman Siregar berserta kelompok mahasiswa lainnya dikatakan tidak terbukti bersalah dalam tragedi yang telah berlalu selama lebih dari 40 tahun ini.

Sumber:
Back To Top