Pamerkan Batu Nisan Aceh Pada Negara ASEAN, Museum Aceh Adakan Pameran - Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Thursday, May 11, 2017

Pamerkan Batu Nisan Aceh Pada Negara ASEAN, Museum Aceh Adakan Pameran

Pembukaan Pameran Pameran Kontemporer Mengenal Batu Nisan Aceh. @Doc. Istimewa
Banda Aceh | Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh mengadakan pameran khusus batu nisan di Museum Aceh, jalan Sultan Alaidin Mahmud Syah, Banda Aceh, Selasa, (09/05/17). Tujuannya, untuk memperkenalkan batu nisan Aceh sebagai budaya Islam di Asia Tenggara.

Pembukaan pameran ditandai pemotongan pita oleh Wali Nanggroe Aceh Tgk. Malik Mahmud Al Haytar, dan disaksikan Sekda Aceh Drs. Dermawan, MM, Kadis Disbudpar Reza Fahlevi, unsur Forkopimda, serta sejumlah tokoh masyarakat.
Sebelumnya, Dermawan mengharapkan melalui pameran ini dapat lebih mengenal sejarah dan perkembangan Islam serta pengaruhnya bagi kehidupan sosial masyarakat Aceh.

"Aceh merupakan gerbang masuknya Islam di nusantara dan Asia Tenggara, ini patut disyukuri," kata Dermawan.

Sebut Dermawan salah satu jejak Islam di Aceh yang sangat kaya warna adalah batu nisan yang banyak terdapat di makam-makam tua di berbagai daerah, termasuk batu nisan yang ada di makam Sultan Malik al-Salih, sultan pertama kerajaan Samudra-Pasai di timur laut Sumatra yang diperkirakan ada sejak abad ke-12.

Yang menarik, seni batu nisan ini tidak hanya berkembang di Aceh, tapi juga ditemukan di sejumlah makam tua di Malaysia, Brunai dan selatan Thailand. Pemerintah Aceh berjanji akan mendaftarkan warisan budaya ini kepada UNESCO untuk mendapat pengakuan sebagai warisan budaya Islam di Asia Tenggara. Mudah mudahan dengan adanya pengakuan dari badan PBB ini akan membuat kita semakin peduli pada keberadaan batu nisan Aceh dan bertekad untuk selalu merawatnya.

Untuk itu, ia menghimbau masyarakat untuk menjaga dan Melestarikan Museum Aceh dan Balai Pelestarian Cagar Budaya, sehingga dapat di simpan di museum Aceh dalam bentuk asli dan replika, dan bisa diwariskan pada anak cucu masyarakat Aceh dan Indonesia.

Sementara itu, kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Aceh Junaidah menyebutkan, Museum Aceh sendiri menyimpan enam ribu lebih koleksi benda kuno, namun semua benda itu ditampilkan dalam museum. Mengingat banyak benda yang sudah berumur, ia khawatir bila tetap dipaksakan untuk tampil akan menjadi rusak, ujar Junaidah yang juga ketua panitia pameran itu.


Sumber:

No comments:

Post a Comment