Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Partai SIRA) - Menulis Sejarah l Catatan Dunia

Wednesday, July 05, 2017

Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Partai SIRA)

Partai Suara Independen Rakyat Aceh
(Partai SIRA) 

Logo Partai Suara Independen Rakyat Aceh (Partai SIRA). @Doc. Istimewa.
Dalam kenangan rakyat Aceh, SIRA merupakan singkatan dari Sentral Informasi Referendum Aceh (SIRA). Namun, jika pada pangkal ada kata partai, maka kepanjangan SIRA menjadi Suara Independen Rakyat Aceh yang disingkat menjadi SIRA. Menggunakan singkatan yang sama yakni dari organisasi SIRA ke Partai SIRA merupakan strategi jitu untuk memudahkan menyimpan memori pemilih pada Pemilu 2009. Kongres Partai SIRA pada 10-13 Desember 2007 memilih Muhammad Nazar yang menjabat sebagai Wakil Gubernur Aceh secara aklamasi sebagai Ketua Majelis Tinggi Partai dan Muhammad Taufik Abda sebagai Ketua Dewan Pimpinan Pusat Partai. Nazar juga menjadi tokoh pendiri atau inisiator dari partai ini.

Sehari sebelum singkatan SIRA dikukuhkan pada kongres itu, panitia menginvestarisir belasan akronim SIRA antara lain Seutot Indatu Rakyat Aceh (Mengikuti Nenek Moyang Rakyat Aceh diterjemahkan dari bahasa Aceh), Solidaritas Independent Rakyat Aceh, Su Wali Rakyat Aceh (Suara Wali Rakyat Aceh), Sahabat Independen Rakyat Aceh, Saboh Ikat Rakyat Aceh (Satu Ikatan Rakyat Aceh), Sosialis Islam Rakyat Aceh, Society Independent Rakyat Aceh, Suara Independen Rakyat Aceh, dan Partai Silaturrahmi Rakyat Aceh. Sehubungan dengan itu, dalam bahasa Aceh, sira itu bermakna garam.

Partai SIRA diproklamasikan di Banda Aceh pada 10 Desember 2007, yang bertepatan dengan Hari HAM Dunia. Logo partai tersebut juga terdiri dari gambar lingkaran yang dibentuk dari kombinasi bulan sabit putih menyambung dengan sepuluh bintang merah dan berada di dalam latar biru muda. Mereka mengklaim lambang ini mencerminkan Partai SIRA selalu bersikap cinta damai dengan bukti sungguh-sungguh menegaskan nilai HAM. Sebagaimana Partai Aceh yang memiliki cabang di 23 kabupaten kota, Partai SIRA juga demikian. Hal ini bisa terjadi karena di masa konflik hingga Pilkada Aceh 2006, anggota SIRA dan GAM saling berkomunikasi serta mendukung.

Nama SIRA mengingatkan masyarakat pada 8 November 1999 yang bersama-sama dengan GAM mampu memobilisasi paling kurang 1 juta rakyat Aceh membanjiri ke Halaman Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh untuk mengikuti Sidang Umum Masyarakat Perjuangan Referendum (SU-MPR). Militer Indonesia menyatakan SIRA merupakan aktor intelektual bagi sayap militer GAM. Tak pelak, Ketua Presidium SIRA Muhammad Nazar dua kali dipenjara karena dituduh menyebarkan rasa permusuhan kepada Indonesia dan menuntut digelar referendum dengan opsi menerima otonomi khusus atau merdeka.

Muhammad Nazar dalam pembukaan Kongres Pertama Partai SIRA pada Desember 2007 menyatakan partai tersebut inklusif, yaitu boleh dimasuki oleh siapa saja sesuai dengan peraturan partai. Nazar menegaskan Partai SIRA dibentuk untuk melanjutkan perjuangan aspirasi rakyat Aceh yang masih tersendat-sendat secara ekonomi, politik, budaya, pendidikan, dan sebagainya. Dia mengatakan, keinginan untuk mendirikan partai politik lokal sudah tercetus sejak tahun 1999. Saat itu, isu referendum dan kemerdekaan mengkristal di Aceh. Jadi menurutnya, Partai SIRA bukanlah partai baru, tetapi memang baru dikomunikasikan kepada publik luas.

Partai SIRA diprediksikan mampu bersaing dengan Partai Aceh dalam mengumpulkan suara. Siapa saja pengurus Partai SIRA? Antara lain Shadia Marhaban, yang menjadi Ketua Liga Inong Aceh (LINA), yakni organisasi mantan perempuan kombatan GAM dan perempuan korban konflik. Alasan Partai SIRA telat dibentuk karena menunggu perangkat hukum disahkan dan tarik menarik apakah harus mendirikan partai atau bergabung denga Partai GAM yang dibentuk pada 7 Juli 2007.

Walaupun demikian, mereka sudah mempersiapkan dari aspek logistik dengan melibatkan pengurus partai dan anggota organisasi SIRA dalam berbagai bisnis. Ini menjadi mesin uang untuk Pemilu 2009. Bekal pundi-pundi ditambah lagi dengan beberapa kadernya yang telah menjadi birokrat seperti Wakil Bupati Aceh Timur, Nasruddin Abubakar, Wali Kota Sabang, Munawar Liza Zainal dan Wakil Wali Kota Sabang, Islamuddin. Beberapa orang anggota tim asisten gubernur Aceh dan anggota Badan Reintegrasi Aceh (BRA) yang mengurus korban konflik juga berasal dari kalangan SIRA.

Dari sudut ideologi, Partai SIRA tetap merujuk Islam dan keadilan sosial yang mengharapkan Aceh adil dan sejahtera. Kemampuan anak-anak muda melakukan penggalangan masa sudah terbukti ketika mengusung Irwandi-Nazar ke kursi nomor satu di Aceh. Ini merupakan kerja tim sukses yang teridi dari anak-anak muda SIRA dan mantan kombatan GAM. SIRA memiliki pengikut tradisional seperti di pesisir barat dan timur. Kemungkinan besar, pemilih partai ini beradu dengan pemilih Partai Aceh yang dibentuk oleh mantan kombatan GAM serta Partai Daulat Aceh yang semua berbasis di pedesaan.

Ketua Umum M. Taufiq Abda, Sekretaris Arhama (Dawan Gayo), Bendahara Faurizal, dan Kantor Partai SIRA berada di Jalan T. Nyak Arief, No.110, Banda Aceh.


Sumber:
Kawilarang, Harry. 2010. Aceh dari Sultan Iskandar Muda ke Helsinki. Banda Aceh: Bandar Publishing.

Editor:
Menulis Sejarah

No comments:

Post a Comment